Kode iklan di atas
Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Ismu Widodo (kanan) dan Sugiman (kiri) bertekad mengembalikan era kejayaan kopi Liberika di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. |
Blogger.com ---- Kopi liberika di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur pernah terabaikan akibat adanya perkebunan merica dan kelapa sawit.
Pada tahun 1970-an, kopi ini pernah menjadi komoditas penting ketika dibawa oleh para transmigran. Saat ini, langkah untuk memulihkan kejayaan tersebut sedang dilakukan agar dapat menjadi komoditas unggulan di wilayah Kalimantan Timur dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Inisiatif ini dipimpin oleh Ismu Widodo, seorang petani sekaligus pengusaha kopi lokal yang mengembangkan varietas liberika berdasarkan sejarah, potensi lahan, dan kerjasama dengan petani lain.
Ismu Widodo, yang lahir dan dibesarkan di Sepaku, menyatakan bahwa kopi liberika memiliki riwayat yang sangat panjang.
Bibit kopi liberika pertama kali diperkenalkan oleh kelompok transmigran dari Pacitan, Jawa Timur, pada tahun 1970-an dan pernah menjadi komoditas unggulan sebelum teralih pada budidaya tanaman merica dan kelapa sawit.
"Pada masa lalu, kopi tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi hanya diminum setiap hari oleh nenek moyang kami karena kondisi ekonominya belum memadai," ungkap Ismu, yang merupakan lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Samarinda dan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Poltanesa).
Dengan meningkatnya perkembangan kebun merica dan kelapa sawit, kopi liberika mulai tidak diperhatikan lagi. Walaupun demikian, pohon-pohon kopi yang telah berusia puluhan tahun tersebut masih dapat bertahan di antara kebun sawit tanpa mendapatkan perawatan dan seringkali dianggap sebagai tanaman pengganggu.
Dimulai dari Kunjungan ke Riau
Kesadaran Ismu untuk menghidupkan kembali kopi liberika dimulai pada tahun 2017, ketika ia bertugas di Riau dan menyaksikan banyak petani sawit menggunakan lahan mereka untuk menanam kopi liberika.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Ismu mulai menanam kopi di lahan miliknya sendiri di Sepaku dengan menggunakan bibit dari pohon kopi lokal. Pada awalnya, saya menanam kurang lebih 100 pohon.
"Perawatannya simpel, tahan terhadap hama, dan tetap memberikan hasil," ujarnya. Saat ini, sekitar 13 hektar tanah milik Ismu ditanami kopi liberika, di mana tujuh hektar di antaranya sudah menghasilkan.
Setiap hektar tanah dapat ditanami hingga seribu pohon dan dapat memproduksi sekitar satu ton kopi. Menurut Ismu, pengembangan kopi liberika sangat sesuai dilakukan di daerah dataran rendah Kalimantan Timur.
Kopi ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara nol sampai 200 mdpl. Di Kalimantan Timur, waktu panen biasanya lebih awal, yaitu sekitar bulan Juni. "Saat ini di Jawa sedang berlangsung panen pada bulan Agustus," tuturnya.
Permintaan untuk kopi liberika Sepaku terus mengalami peningkatan, baik dari wilayah sekitar maupun dari luar daerah seperti Jakarta.
Harga penjualan kopi liberika sekitar Rp 40 ribu untuk 100 gram atau Rp 400 ribu untuk 1 kilogram, yang dianggap menguntungkan bagi para petani. Ismu dan kelompok petani mengelola proses pertanian hingga tahap pascapanen.
Ia juga bermaksud untuk mendirikan koperasi, mendorong pemasaran secara digital, dan menyiapkan sertifikasi agar kopi liberika Sepaku diakui sebagai bagian dari kearifan lokal serta produk unggulan Ibu Kota Nusantara.
Saat ini, terdapat sekitar 40 orang petani kopi liberika di kawasan Sepaku, yang memiliki total luas lahan sekitar 10 hektar.
Di masa yang akan datang, area seluas sekitar 35 hektar dari kelompok petani Dayak juga direncanakan untuk menanam kopi liberika melalui kerjasama dalam budidaya dan pelatihan.
Ismu mengharapkan kopi liberika Sepaku dapat menjadi produk unggulan di Kalimantan Timur serta IKN.
Ia mengharapkan bahwa pada tahun 2028, Kalimantan Timur dapat berada dalam sepuluh besar provinsi penghasil kopi di Indonesia, serta menciptakan kesempatan untuk memasuki pasar global.
Menghasilkan Kopi Liberika Sepak
Ketua Komunitas Petani Kopi Liberika Sepaku, Sugiman, mengungkapkan bahwa usaha untuk mengembangkan kembali kopi liberika Sepaku mulai intensif sejak bulan Agustus 2025. Pada waktu itu, sekelompok petani dari Sepaku diundang untuk bertemu dengan komunitas kopi yang berasal dari Jawa di IKN.
Sugiman selanjutnya bertemu dengan Ismu Widodo, seorang petani yang telah lebih dahulu menanam dan mengembangkan kopi liberika di Sepaku.
Bersama Ismu, masyarakat yang masih memiliki tanaman kopi tua dikumpulkan dan dibantu untuk membentuk Komunitas Petani Kopi Liberika Sepaku.
"Kami menyatukan warga yang masih memiliki tanaman kopi, kemudian membentuk kelompok tani untuk mengelola secara lebih terstruktur," ujar Sugiman.
Menurut Sugiman, Otoria IKN mengapresiasi inisiatif tersebut dan bahkan mendorong pengembangan kopi liberika sebagai komoditas utama IKN.
Dukungan tersebut ditunjukkan melalui kegiatan penanaman kopi liberika secara massal yang diselenggarakan oleh OIKN pada akhir tahun 2025 yang berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Selain itu, berbagai pelatihan juga diselenggarakan, meliputi budidaya hingga pengolahan hasil panen.
Sugiman menyatakan bahwa saat ini ada dua jenis produk yang sedang dikembangkan, yaitu kopi lokal Sepaku dan kopi liberika murni.
"Kami berusaha untuk menghidupkan kembali sejarah kopi yang diturunkan oleh nenek moyang kami, para transmigran, sambil memberikan nilai ekonomi baru bagi masyarakat," ujarnya.
Nara Sumber Sugiman ( Ketua Komunitas Petani Kopi Liberika Sepaku )
Ismu Widodo ( Petani Dan Pengusaha Kopi Lokal )
Penulis Berita Raden Dede Sudrajat
Referensi Regional.kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar