Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Pengisian bahan bakar di SPBU Nagan Raya akan dilakukan setelah petugas menyelesaikan shalat Tarawih.

 

Antrean di SPBU Jalan Lintas Barat Sumatera ruas Meulaboh-Tapaktuan, tepatnya di Alue Bili, Kabupaten Nagan Raya, Aceh,

Nagan Raya, Aceh (Blogger.com) - Pada malam Minggu, antrean kendaraan di SPBU yang terletak di Jalan Lintas Barat Sumatera, khususnya di Alue Bili, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, terlihat panjang namun tetap tertib.

Pengisian bahan bakar di area tersebut harus menunggu hingga petugas SPBU selesai menjalankan shalat Tarawih.

"Petugas masih melaksanakan shalat Tarawih, kami juga masih menunggu di sini," ungkap Syafii (48), seorang sopir truk pengangkut barang yang dijumpai saat antri di SPBU tersebut.

Menurutnya, antrian kendaraan di SPBU tersebut sebenarnya merupakan hal yang biasa.

Namun, selama bulan Ramadhan, antrean menjadi lebih lama karena tidak semua SPBU buka hingga malam hari.

Terdapat lima SPBU di area tersebut, tetapi empat di antaranya menghentikan layanan setelah waktu Magrib, sedangkan hanya satu yang tetap beroperasi hingga sekitar pukul 21. 00-22. 00 WIB.

SPBU di sini tutup saat Magrib, namun ada yang buka setelah itu hingga pukul 9 atau 10 malam. Terdapat juga beberapa yang tidak membukanya lagi. "Di sini adalah lokasi yang paling besar, sehingga semua berkumpul di tempat kita saat ini," ungkapnya.

Walaupun begitu, Syafii menyatakan bahwa keadaan ketersediaan bahan bakar saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa waktu lalu setelah daerah tersebut mengalami banjir yang sempat menghambat pasokan BBM.

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Geri (22), seorang sopir mobil bak terbuka yang juga merupakan penduduk setempat. Ia menyatakan bahwa pada akhir Desember tahun lalu, masyarakat mengalami kesulitan dalam memperoleh BBM karena beberapa SPBU ditutup akibat terhentinya pasokan. Pada saat itu, masyarakat terpaksa membeli Pertalite dari penjual eceran dengan harga Rp20. 000 - Rp30. 000 per botol air mineral atau sekitar 1,2 liter.

“Keadaan sudah lebih aman saat ini. ” Meski terdapat antrean untuk mendapatkan bahan bakar. Saat itu, saya pernah menunggu cukup lama, tinggal dua kendaraan lagi, petugas menyatakan bahwa bahan bakarnya sudah habis,” ujarnya.

Pengamatan di lokasi menunjukkan bahwa antrean kendaraan membentang hingga memanfaatkan bahu jalan di kedua sisi, baik untuk kendaraan berbahan bakar solar maupun Pertalite. Setiap kendaraan harus menggunakan kode batang untuk pengisian bahan bakar minyak dan dibatasi maksimal satu kali pengisian dalam sehari.

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum tersebut memiliki empat unit pompa yang menyediakan Pertalite untuk mobil dan sepeda motor, serta bio solar untuk kendaraan bermesin diesel.

Setelah menunggu lebih dari dua jam dari pukul 20. 55 hingga 22. 44 WIB, shalat Tarawih di masjid yang berlokasi tidak jauh dari area SPBU telah selesai. Secara bergantian, petugas datang, lampu SPBU dinyalakan, dan pelayanan pengisian bahan bakar dibuka kembali.

Sekelompok kendaraan yang menunggu antrean termasuk dua mobil double gardan yang membawa lima jurnalis ANTARA yang tergabung dalam tim peliputan khusus “Bangkit Sumatera” berkenaan dengan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di daerah Gayo Lues, Aceh.

Tim tersebut direncanakan untuk meneruskan perjalanan dari Meulaboh melewati Nagan Raya menuju Desa Tetinggi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, dengan perkiraan waktu yang dibutuhkan sekitar enam hingga tujuh jam.

Desa Tetinggi adalah salah satu daerah yang mengalami dampak yang cukup besar akibat bencana banjir dan tanah longsor pada akhir bulan November tahun lalu. Menurut laporan yang diperoleh ANTARA, setidaknya 60 keluarga di desa tersebut hingga saat ini masih tinggal di tempat pengungsian.



Nara Sumber           Geri   ( Seorang Supir Mobil Bak Terbuka ) 

                                     Syafi'i ( Seorang Supir Truk Pengangkut Barang  )

Penulis Berita         Raden Dede Sudrajat

Referensi                  Antara news.com



Komentar

Postingan populer dari blog ini