Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Ketebalan Lumpur Menjadi Halangan dalam Pencarian 553 Korban Bencana di Sumatera

Foto: Petugas Basarnas saat menrmikan jasad korban. (dok. Basarnas Medan)


Bogor, Blogger.com - Sebanyak 553 individu masih dinyatakan hilang setelah terjadinya bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, Mengungkapkan bahwa tebalnya lumpur menjadi hambatan dalam usaha untuk pencarian korban.

Berdasarkan informasi, jumlah 553 korban yang hilang adalah data yang diperoleh per Selasa (2/12/205) pada pukul 10. 00 WIB. Dalam informasi yang samatercatat jumlah korban yang meninggal dunia sesuai data Basarnas adalah 583 orang.

"Hari inioperasi pencarian dan penyelamatan (SAR) masih berlangsung, dan untuk pembaruan data memang terakhir kali diperbarui pada pukul 10. 00, yang menyatakan bahwa total korban yang telah dievakuasi dan dinyatakan meninggal dunia sebanyak 583 orang, sedangkan jumlah yang masih dalam pencarian tercatat 553 orang," jelas Syafii setelah pertemuan dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12).

Syafii menyatakan bahwa ketebalan lumpur merupakan hambatan dalam proses pencarian. Apalagi lumpur yang sangat padat itu tercampur dengan kayu.

"Tentu saja, ini menghadapi tantangan tertentu ketika ketebalan lumpur bervariasiserta terdapat campuran kayu di dalamnya. Ketika lumpur mulai mengering, kami memerlukan salah satu di antaranya, yaitu K-9," ujarnya.

Pihak tersebut sedang mengerahkan semua sumber daya yang ada. Termasuk di dalamnya adalah unsur-unsur militer dan kepolisian.

"Pencarian telah dimulai dan kini lebih terbuka. Kami telah memanfaatkan K9 untuk memberikan bantuan," ujarnya.

Selanjutnya, Syafii menjelaskan penyebab perbedaan angka korban meninggal antara Basarnas dan BNPB. Tercatatjumlah korban meninggal menurut BNPB hingga pukul 12. 55 WIB adalah sebanyak 659 orang, sedangkan menurut Basarnas hingga pukul 10. 00 WIB, jumlahnya adalah 583 orang.

Tindakan yang diambil oleh Badan SAR Nasional tentu mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Kami tidak mengetahui bahwa berkaitan dengan laporan yang ada di BNPB, sebab BNPB bertindak sebagai koordinator dari seluruh sumber daya. "Sumber informasi dapat berasal dari Pemerintah Daerah, TNI, maupun Polri," ujarnya.

"Namun, apa yang dilakukan oleh Badan SAR Nasional pada dasarnya akan dipertanggungjawabkan, karena berkaitan dengan santunan dan hak-hak yang dimiliki oleh keluarga," tambahnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon