Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Kondisi Terbaru 50 Penduduk Terperangkap di Hutan akibat Banjir di Tapanuli Tengah

 

Warga yang terjebak di hutan. (Foto: dok. pribadi Rosmawati)

Bogor, Blogger.com  - Sekitar 50 penduduk terperangkap di hutan saat terjadi banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, beberapa waktu yang lalu. Saat ini, situasi puluhan warga tersebut setelah terjebak di dalam hutan adalah sebagai berikut.

Rosmawati Zebua (30), kerabat dari warga yang terperangkap tersebut, menyebutkan bahwa saat ini keluarganya telah melakukan evakuasi secara mandiri, tanpa bantuan dari BPBD ataupun Basarnas.

"Evakuasi telah dilakukan, tanpa adanya bantuan dari Basarnas atau BPBD," ujar Rosmawati, pada hari Selasa (2/12/2025).

Ia menyatakan bahwa keluarganya dan belasan warga lainnya melakukan evakuasi mandiri pada Kamis (27/11), dua hari setelah para korban terperangkap di hutan. Rosmawati baru menerima informasi bahwa orangtuanya telah dievakuasi pada hari Minggu (30/11).

Agar dapat memperoleh informasi tersebut, saudaranya harus mencari jaringan hingga ke Kecamatan Pandan, karena layanan telekomunikasi di area tersebut masih terputus.

"Menurut adik saya, mereka keluar pada hari Kamis dan baru dapat berkomunikasi dengan saya pada hari Minggu. Adik saya mencari sinyal di Pandan," ujarnya.

Agar dapat selamat dari hutan tersebut, saudara laki-lakinya yang saat ini berusia 25 tahun, dengan berani berusaha untuk berenang melintasi sungai yang masih memiliki ketinggian pada Kamis (27/11). Walaupun harus mengorbankan jiwa, tindakan nekat itu dilakukan oleh adiknya karena memperhatikan keadaan warga yang sudah menderita kelaparan.

Saudarinya menyeberangi sungai untuk menuju Huta Bolon yang terletak di Kecamatan Tukka. Setelah sukses melintasi sungai meskipun menghadapi berbagai rintangan, adiknya mencari bantuan dengan mendatangi beberapa keluarga dari orang-orang yang terperangkap di dalam hutan tersebut.

Rosmawati menyatakan bahwa terdapat beberapa keluarga dari warga yang terjebak tersebut, masih tinggal di perkampungan. Mereka sebelumnya terhalang setelah pulang dari tempat kerja, sehingga tidak dapat kembali ke desa.

Saudara perempuan saya mengambil keberanian untuk berenang demi mencari bantuan ke sisi yang lain. Sungguh, situasinya masih belum reda, namun dia mencoba untuk melakukan hal tersebut, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kondisi mereka di (hutan) sana, bukan? Di antara anggota keluarga yang baru tiba dari tempat kerja, terdapat beberapa yang terperangkap saat insiden terjadi di bawah, sehingga mereka tidak dapat kembali ke kampung. Oleh karena itu, hal tersebut yang mendukung proses evakuasi mereka dari area hutan," ungkapnya.

Mereka melakukan evakuasi terhadap puluhan warga tersebut menggunakan peralatan yang sederhana. Mereka menghubungkan bambu yang tersedia di lokasi dan menggunakan tali sebagai alat untuk melintasi sungai.

Mereka menghubungkan bambu untuk proses evakuasi dengan menyambungkan bagian-bagiannya agar menjadi panjang. "Mereka berada di atas kayu tersebut dan memegangnya untuk tetap bertahan," kata Rosmawati.

Setelah berhasil dievakuasi, para penduduk mulai mencari lokasi untuk mengungsi. Sebagian individu mencari tempat tinggal di rumah kerabat yang dapat dihuni, sementara yang lainnya memilih untuk mengungsi ke lokasi pengungsian yang disediakan oleh pemerintah dikarenakan tidak adanya saudara yang dapat dijadikan tujuan. Namun, kediaman mereka telah rusak akibat terjangan banjir.

Semua orang berpisah setelah mereka meninggalkan hutan tersebut, karena rumah sudah tidak ada lagi sama sekali. Dengan demikian, mereka masih mencari anggota keluarga yang tersisa untuk dijadikan tempat pengungsian. "Dikatakan bahwa sebagian berada di GOR Pandan, sementara yang lainnya masih tinggal di rumah keluarga atau kerabatnya," tuturnya.

Sebelumnya dilaporkan, sekitar 50 penduduk terperangkap di dalam hutan akibat banjir yang terjadi di Tapanuli Tengah. Rosmawati menyatakan bahwa insiden tersebut berlangsung di Desa Huta Bolon, Kecamatan Tukka, pada hari Selasa (25/11).

Ia menyatakan bahwa terdapat tujuh anggota keluarganya yang terjebak di dalam hutan tersebut, termasuk ibunya, adiknya, serta keluarga dari saudaranya. Terdapat pula anak dari abangnya yang masih berusia bayi dan seorang warga yang mengalami stroke yang perlu dievakuasi ke hutan tersebut.

Ya, itu adalah keluarga saya, terdiri dari tujuh orang di dalamnya. Ibu, saya memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan, serta seorang kakak yang sudah menikah dengan istrinya dan memiliki dua orang anak. "Ada seorang bayi, seorang lansia, dan seorang tetangga yang lumpuh diangkat ke atas itu," ujar Rosmawati, pada Rabu (26/11).
Menurut pernyataan dari adiknya yang merekam video itu, terdapat sekitar 50 individu yang terkurung di hutan tersebut. Ia menyatakan bahwa ia masih dapat melakukan panggilan video dengan keluarganya pada pukul 09. 30 WIB.

Pada waktu itu, keluarganya telah melarikan diri ke dalam hutan tersebut tanpa membawa persiapan apa pun. Oleh karena itu, banjir besar yang datang tiba-tiba memaksa mereka untuk segera menyelamatkan diri.

Rosmawati pernah meminta kepada saudarinya untuk merekam keadaan di tempat tersebut. Rosmawati yang tinggal di Jakarta berharap video itu dapat dia bagikan di media sosial, dengan harapan ada seseorang yang mau membantu menyelamatkan keluarganya.

Namun, sekitar pukul 11. 00 WIB, komunikasi Rosmawati dengan keluarganya terhenti setelah jaringan telekomunikasi di kawasan tersebut putus. Hingga saat ini, ia belum mengetahui keadaan keluarganya karena jaringan telekomunikasi masih terganggu.

Pikirannya tidak teratur. Dalam benaknya, ia yakin bahwa keluarganya pasti sudah merasa kedinginan di hutan dan tidak memiliki makanan. Dari jauh, Rosmawati berusaha keras untuk mendapatkan informasi tentang keluarganya. Ia mengontak Basarnas untuk meminta bantuan dalam mengevakuasi keluarganya dari hutan tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon