Kode iklan di atas
Pembaruan Terkait Korban Banjir dan Longsor di Aceh: 305 Orang Telah Meninggal, 191 Orang Masih Belum Ditemukan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bogor, Blogger.com - Banjir dan tanah longsor yang terjadi di 18 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh mengakibatkan 305 korban jiwa dan 191 orang dilaporkan hilang. Bencana ini juga menghancurkan ratusan sarana umum dan puluhan ribu rumah penduduk.
Sesuai dengan informasi dari Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh pada Rabu (3/12) pukul 19. 37 WIB, jumlah korban jiwa terbanyak terdapat di Aceh Utara, yaitu sebanyak 112 orang. Disusul oleh Aceh Tamiang sebanyak 39 orang, Aceh Timur 32 orang, Lhokseumawe 4 orang, Langsa 5 orang, Aceh Tengah 23 orang, Subulussalam 1 orang, Aceh Tenggara 13 orang, Bireuen 20 orang, Pidie 1 orang, Pidie Jaya 23 orang, Gayo Lues 4 orang, Nagan Raya 1 orang, dan Bener Meriah 29 orang.
Jumlah warga yang terkena dampak mencapai 1. 599. 740 orang, di mana 688. 775 di antara mereka mengungsi di 898 lokasi.
Bencana juga telah merusak setidaknya 138 kantor, 51 tempat ibadah, 201 sekolah, 4 pesantren, serta 204 fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat. Di samping itu, terdapat kerusakan pada 302 lokasi jalan, 152 jembatan, serta 78. 076 rumah penduduk.
Wilayah yang paling parah terkena dampak banjir dan longsor antara lain Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Beberapa desa di area tersebut hingga saat ini masih terputus dari akses jalan, sehingga terisolasi.
Selain jalur darat, jaringan telekomunikasi, pasokan listrik, dan akses air bersih juga terhenti selama satu minggu terakhir sejak terjadinya bencana.
Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, menyatakan bahwa beberapa area yang terkena dampak masih sulit diakses akibat kerusakan pada jalan, jembatan, dan sistem komunikasi.
Masalah komunikasi semakin diperburuk oleh tidak adanya pasokan listrik. "Walaupun koneksi internet tersedia melalui Starlink, perangkat tetap memerlukan sumber daya, dan ketika baterai habis, komunikasi kembali terputus," kata Murthalamuddin.
Ia menambahkan bahwa unsur Tagana, TNI, dan para relawan telah aktif bergerak sejak awal terjadinya bencana. Namun, tantangan terbesar masih terletak pada akses menuju area yang terkena dampak.
"Kedalaman lumpur menyebabkan jalur tersebut tidak dapat dilalui oleh kendaraan," ujarnya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar