Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

137 Ton Sampah Diambil dari Pesisir Tanggul Laut Muara Baru.

 

Kondisi penumpukan sampah di Tanggul Pantai Muara Baru, Jakarta Utara,

Jakarta Utara, Blogger.com --- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, melalui Unit Pengelola Sampah Badan Air (UPSBA), telah mengangkut sejumlah 137 ton sampah dari kawasan pesisir Tanggul Laut Muara Baru, Jakarta Utara, sejak hari Jumat, tanggal 16 Januari 2026.

Proses pengangkutan limbah dilaksanakan selama tiga hari. Pada hari pertama, petugas mengumpulkan 35 ton sampah, dan pada hari kedua jumlahnya bertambah menjadi 25 ton. Pada hari ketiga, yaitu Minggu (18/1/2026), total sampah yang berhasil diangkut meningkat menjadi 77 ton.

"Pada hari ketiga, kami meningkatkan penanganan dengan mengerahkan 100 petugas kebersihan, 12 unit ponton, tujuh unit truk sampah kecil, enam unit truk besar, dua unit ekskavator, serta dua unit perahu karet," kata Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto dalam keterangan resminya, Senin (19/1/2026).

Selama proses pelaksanaan, Dinas Lingkungan Hidup juga mendirikan pembatas yang terbuat dari bahan High-Density Polyethylene (HDPE) dan bambu di kawasan pesisir.

Batasan tersebut berperan untuk menghentikan pergerakan limbah supaya tidak menyebar ke area perairan yang lebih luas dan juga mempermudah proses pengumpulan.

Asep menyatakan bahwa di masa depan, DLH akan meningkatkan pengawasan secara lebih tetap di semua zona dan mempersiapkan armada cadangan, terutama pada saat hujan.

Dinas Lingkungan Hidup menargetkan bahwa proses sterilisasi area Muara Baru dapat diselesaikan dalam waktu lima hari. "Tujuan kami adalah menyelesaikan sterilisasi area Muara Baru dalam waktu lima hari, dengan total sampah yang diangkut diperkirakan akan melebihi 200 ton sejak hari pertama penanganan," ujarnya. Di samping itu, Asep mengajak masyarakat agar tidak membuang sampah ke dalam air dan area pantai.

Menurutnya, limbah yang masuk ke lautan tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga menyulitkan upaya penanganan dan dapat menyebabkan efek yang lebih lanjut.

Menjaga kebersihan air merupakan kewajiban bersama. "Penglibatan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir Jakarta," ungkap Asep.

Tumpukan limbah

Sebelumnya, tumpukan sampah di kawasan perairan Tanggul Pantai Muara Baru, Jakarta Utara, menjadi viral di media sosial.

Limbah dalam jumlah besar terlihat mengapung dan menumpuk di sekitar tanggul. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat mengenai efek terhadap lingkungan dan kesehatan.

Dalam video tersebut, terlihat berbagai jenis sampah, mulai dari plastik hingga potongan kayu, mengapung di air yang berwarna cokelat dan terakumulasi di satu lokasi di sekitar tanggul.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Utara, Edy Mulyanto, mengungkapkan bahwa penumpukan sampah itu kemungkinan besar merupakan akibat dari banjir yang telah melanda beberapa daerah di Jakarta Utara pada hari Senin, 12 Januari 2026.

Menurut Edy, banjir dengan volume yang signifikan, ditambah dengan fenomena banjir rob, mengakibatkan sampah dari berbagai daerah terbawa aliran dan pada akhirnya terakumulasi di area Tanggul Pantai Muara Baru.

Kemungkinan disebabkan oleh banjir yang terjadi pada hari Senin lalu. "Sementara itu, mungkin juga ada genangan air akibat banjir rob dari laut yang mengumpul di lokasi tersebut," jelasnya saat dihubungi Kompas. com, Kamis (15/1/2026).





Nara Sumber                         EM

Penulis                                  RDS


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon