Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

200 Ton Sampah Tangsel Dipindahkan ke Cileungsi, DLH Bogor: Tidak Disimpan, tetapi Dikelola oleh Perusahaan

 

Kondisi lalu lintas yang harus mengantre saat lewat Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, lantaran ada penyempitan jalan akibat gunungan sampah setinggi tiga meter yang meluber ke jalan raya, pada Selasa (6/1/2026).

BOGOR, Blogger. com - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor menyampaikan bahwa sampah yang dipindahkan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) ke daerah Cileungsi tidak hanya ditumpuk atau dibuang sembarangan, melainkan dikelola oleh pihak ketiga atau swasta. Pernyataan ini disampaikan sehubungan dengan isu mengenai pengalihan atau pembuangan 200 ton sampah dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel) ke daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Temuan awal yang kami lakukan menunjukkan bahwa aktivitas yang dilakukan bukan merupakan tindakan membuang atau menimbun sampah. "Sampah tersebut dikelola oleh suatu perusahaan," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, kepada Kompas. com, pada hari Jumat (9/1/2026).

Teuku menyatakan bahwa permasalahan mengenai 200 ton sampah tersebut telah memberikan kesan seolah-olah Kabupaten Bogor dijadikan tempat pembuangan akhir bagi sampah dari wilayah lain.

Namun, hasil pemeriksaan awal di lokasi menunjukkan bahwa tidak ada penumpukan sampah seperti yang dikhawatirkan oleh masyarakat.

Pemanas limbah dengan menggunakan metode pembakaran.

Menurut penjelasannya, pengelolaan sampah dilakukan oleh sebuah perusahaan swasta di daerah Cileungsi dengan metode insinerasi, yaitu proses pembakaran hingga sampah tersebut menjadi abu. "Kami telah melakukan pemeriksaan awal melalui kecamatan dan perangkat yang beroperasi di wilayah tersebut, dan informasi awal yang kami peroleh adalah bahwa sampah itu dikelola oleh perusahaan dengan menggunakan mekanisme insinerator, yaitu proses pembakaran hingga menjadi abu," jelasnya.

Namun, DLH Kabupaten Bogor masih harus memastikan secara langsung bagaimana cara pengelolaan tersebut dilakukan serta efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan di sekitarnya. Ia menegaskan bahwa ini tidak menunjukkan bahwa Kabupaten Bogor telah memberikan izin penuh untuk aktivitas pengelolaan sampah tersebut.

Oleh karena itu, sampai sekarang, DLH masih berada dalam fase penyelidikan awal dan belum mengirimkan tim teknis lingkungan untuk melaksanakan pemeriksaan lengkap di lokasi. Pemeriksaan yang komprehensif sangat diperlukan untuk memastikan bahwa proses pengelolaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan serta masyarakat di sekitarnya.

"Kami belum melakukan pemeriksaan langsung di lapangan untuk mengetahui sejauh mana proses tersebut berlangsung, termasuk aspek perizinan dan dampak terhadap lingkungan," ujarnya.

Izin untuk Keperluan Lingkungan

Ia menekankan, walaupun pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada penumpukan sampah, semua kegiatan pengelolaan tetap harus mematuhi aturan dan izin lingkungan yang berlaku. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor akan melaksanakan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan bahwa tidak ada pencemaran, bau, atau gangguan lainnya yang dialami oleh masyarakat.

Teuku menyatakan bahwa ia akan menghentikan kegiatan tersebut jika di kemudian hari ditemukan dampak lingkungan yang merugikan, seperti timbulnya bau, pencemaran air lindi, atau gangguan pada kenyamanan warga.

"Apabila di kemudian hari ditemukan dampak lingkungan atau tidak memenuhi kriteria, kami pasti akan menghentikannya. Jika menyebabkan dampak, kami akan segera menghentikannya," ujarnya.

Teuku juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah yang melintasi berbagai wilayah.

Ia menyatakan bahwa kurangnya komunikasi sejak awal menyebabkan masalah ini menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat. Secara etis, perlu dilakukan koordinasi. "Pastikan tidak terkesan bahwa Kabupaten Bogor adalah lokasi pembuangan sampah," ujar Teuku.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor menjamin akan melakukan tindak lanjut terhadap temuan awal itu dengan melakukan pemeriksaan di lapangan sebelum mengambil langkah selanjutnya mengenai pengelolaan sampah Tangsel di Cileungsi.

Jangka Pendek Tangsel

Sebelumnya telah dilaporkan bahwa Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) untuk sementara waktu mengalihkan pengiriman sampah ke daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor, mulai dari hari Rabu (7/1/2026).

Langkah tersebut diambil setelah Pemerintah Kota Serang menangguhkan sementara pengiriman limbah dari Kota Tangsel ke Tempat Pembuangan Akhir Sementara (TPAS) Cilowong.

Ini adalah penyelesaian sementara. "Kami telah membuat kesepakatan untuk memindahkan tempat pembuangan sampah ke Cileungsi," kata Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, dalam pernyataannya pada hari Kamis (8/1/2026).




Penulis                                 Raden Dede Sudrajat



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon