Kode iklan di atas

Kronologi Penemuan Macan Tutul Terjerat di Permukiman Warga Gunung Mas Puncak Bogor, Berasal dari Gunung Pangrango.

Gambar
  Petugas saat mengevakuasi macan tutul yang masuk ke permukiman warga di Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jumat, 3 April 2026. Blogger.com  - Sebuah macan tutul yang ditemukan di lingkungan Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Cisarua, diketahui berasal dari hutan Gunung Pangrango. Saat ini, satwa liar tersebut sedang ditangani oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerja sama dengan tim Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor. Asisten Manajer Legal dan Umum PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2, Asep Zaenal Muttaqin menjelaskan bahwa macan tutul tersebut berasal dari pegunungan dan memasuki permukiman warga Gunung Mas sebelum terjerat. “Satwa ini datang dari kawasan Pegunungan Pangrango, memasuki kawasan Gunung Mas, lalu terjebak dalam jeratan dan kemudian diberi bius oleh pihak BKSDA dan Taman Safari,” ujarnya pada hari Jumat, 3 April 2026. Asep menambahkan bahwa keberadaan macan tutul ini telah diketahui oleh warga, terutama di Kampung Batik. Satwa tersebu...

Ancaman Ambruknya Rumah Menghantui Warga di Tepian Citarum, Karawang.

 

Petugas mengevakuasi korban banjir di Karawang.

Blogger.com ---- Meluapnya Sungai Citarum menjadi sebuah ancaman yang sangat serius dan juga menimbulkan kekhawatiran yang mendalam bagi masyarakat di Kelurahan Adiarsa Barat, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.

Ketua RT 04 Kelurahan Adiarsa Barat, Heri (45), menyampaikan bahwa warga yang sudah dua hari terkena dampak banjir kini tidak hanya khawatir tentang genangan air, tetapi juga risiko kerusakan bangunan yang serius.

Hari ini merupakan hari kedua rumah mengalami banjir, disebabkan oleh lokasi rumah yang berada di tepi sungai Citarum. "Oleh karena itu, kami terpaksa mengungsi, dan yang menjadi perhatian utama sebenarnya bukanlah risiko kebanjiran, melainkan kekhawatiran bahwa rumah kami akan runtuh akibat erosi tanah yang ditimbulkan oleh banjir," ujar Heri saat berbincang dengan wartawan, Selasa (20/1/2026).

Air sungai Citarum yang meluap menyebabkan erosi, yang secara bertahap mengikis tanah yang menjadi dasar rumah penduduk di tepi sungai itu.

Dahulu, rumah saya berada sekitar 10 meter dari tepi sungai pada saat rumah tersebut dibangun, namun kini kondisinya telah berubah. "Telah mencapai tiang rumah yang tanahnya amblas, ini sebenarnya adalah kekhawatiran kami sebagai warga di sini, bukan hanya terkait dengan banjir," katanya.

Ia dan masyarakat lainnya meminta kepada pemerintah untuk segera melakukan tindakan nyata terhadap situasi yang mengancam keselamatan jiwa tersebut. "Kami mengharapkan agar pemerintah segera mengambil tindakan terkait situasi ini, karena kami telah merasakannya selama bertahun-tahun, dan dampak banjir sangat merugikan tempat tinggal kami," ujarnya.

Dian Fahrud Jaman, yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Karawang, telah mengungkapkan rasa prihatin setelah melakukan tinjauan langsung terhadap keadaan warga. Ia menyaksikan beberapa dinding rumah penduduk mulai retak karena tanah di bawah bangunan yang mulai kosong tergerus oleh erosi.

"Kami mengamati situasi masyarakat yang terdampak banjir di Kelurahan Adiarsa Barat. Tadi, saya memeriksa dan menemukan beberapa rumah yang hampir tergerus akibat derasnya aliran Sungai Citarum yang saat ini sedang meluap," ujar Dian kepada wartawan.

Dian mengungkapkan bahwa arus sungai yang kuat menyebabkan kestabilan tanah di bawah rumah penduduk terganggu.

"Tembok rumah penduduk sudah nampak retak-retak, akibat erosi yang disebabkan oleh derasnya aliran sungai Citarum. Hal ini membuat tanah di bawah rumah menjadi kosong, sehingga beberapa warga menambahkan penyangga di pinggiran rumah menggunakan bambu dan batu," kata dia.

Dian memastikan bahwa mereka telah mengakumulasi aspirasi masyarakat untuk direkomendasikan kepada pemerintah daerah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bersangkutan.

"Saya akan mencatat keluhan masyarakat ini, dan mudah-mudahan menjadi perhatian kami di DPRD agar segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah melalui Dinas yang berwenang," kata Dian.

Sementara itu, menurut data sampai 20 Januari pukul 15. 00 WIB, banjir di Karawang telah meluas ke 29 desa dan kelurahan di delapan kecamatan, meskipun di beberapa lokasi air mulai berkurang.

Informasi yang kami kumpulkan mengenai dampak cuaca ekstrem dari tanggal 12 hingga 16 Januari menunjukkan bahwa banjir telah menggenangi 29 desa dan kelurahan di 8 kecamatan, yaitu Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Karawang Barat, Rengasdengklok, Pedes, Pakisjaya, Cibuaya, dan Tirtajaya," ungkap Usep.

Usep menjelaskan bahwa ribuan rumah tenggelam dan puluhan ribu orang terkena dampaknya, sehingga banyak warga harus berpindah ke lokasi yang lebih aman.

"Sebanyak 6. 867 rumah mengalami dampak banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 30 centimeter hingga 350 centimeter. Dari jumlah tersebut, terdapat 18 rumah yang mengalami kerusakan ringan, 6 rumah yang rusak sedang, dan 7 rumah yang rusak berat. Selain itju, sebanyak 33. 391 orang terdampak dan terpaksa harus mengungsi," pungkasnya.




Nara Sumber               Heri

Penulis.            Raden Dede Sudrajat 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon