Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Banjir Menggenangi Mentawir Wilayah IKN, Terburuk dalam 26 Tahun Terakhir



Banjir setinggi 80 centimeter merendam puluhan rumah di Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, yang masuk kawasan IKN pada Kamis (8/1/2026) kemarin.(BPBD PPU)

Blogger.com – Pada Kamis (8/1/2026) dini hari, banjir menggenangi Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Banjir di wilayah kelurahan yang termasuk dalam area Ibu Kota Nusantara (IKN) terjadi sekitar pukul 03. 00 Wita.

Saat ini, dilaporkan bahwa air mulai menurun. Lurah Mentawir, Nelva Susanti, menyatakan bahwa banjir memang kerap melanda daerahnya. "Ini adalah banjir yang terjadi setiap akhir tahun dan awal tahun," ujar Nelva, Jumat (9/1/2026).

Walaupun merupakan suatu kejadian yang terjadi setiap tahun, Nelva menyatakan bahwa banjir kali ini adalah yang paling besar dalam 26 tahun terakhir ia tinggal di Mentawir.

Menurut catatan dari pihak kelurahan, terdapat 15 rumah yang pernah terendam oleh banjir, sedangkan rumah-rumah lainnya hanya mengalami genangan air sampai kolong. Rumah yang terendam sepenuhnya terletak dekat dengan sungai. "Tinggi air selama banjir pernah mencapai antara 1,5 hingga 2 meter," ujarnya.

Nelva berasumsi bahwa banjir yang sangat parah kali ini disebabkan oleh pendangkalan di bagian hulu sungai serta penyempitan di bagian muara sungai. Pihak kelurahan telah beberapa kali meminta kepada instansi terkait untuk melaksanakan normalisasi sungai. Namun, UPT tidak memiliki peralatan yang cukup untuk melakukan pengerukan. "Oleh karena itu, hingga saat ini normalisasi masih belum terwujud," ungkapnya.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah PPU

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah PPU, M. Sukadi Kuncoro menyatakan bahwa sekitar 54 rumah warga di tiga RT, yaitu RT 01, RT 02, dan RT 03, terkena dampak akibat meluapnya sungai setelah hujan deras mengguyur daerah tersebut. Ia menyatakan bahwa banjir disebabkan oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama di daerah tersebut. Hujan deras berlangsung dari hari Rabu, 7 Januari 2026, mulai pukul 17. 00 Wita hingga hari Kamis, 8 Januari 2026, pada pukul 06. 00 Wita.

Keadaan ini mengakibatkan daerah aliran sungai mengalami banjir, sehingga air menggenangi pemukiman masyarakat yang berlokasi di daerah rendah dan tepi sungai,” kata Kuncoro. BPBD PPU mencatat bahwa banjir mempengaruhi sembilan rumah di RT 01 yang dihuni oleh sembilan kepala keluarga (KK) atau sejumlah 25 individu. Di RT 02, air banjir menggenangi 42 rumah yang dihuni oleh 42 kepala keluarga, dengan total 108 orang. Di RT 03, terdapat tiga rumah yang terdampak dan ada tiga kepala keluarga atau 14 orang. Jumlah rumah yang terkena dampak secara keseluruhan mencapai 54 unit, yang melibatkan total 147 orang. "Pada saat insiden terjadi, ketinggian air di area halaman rumah penduduk berkisar antara 50 hingga 80 sentimeter, sementara di dalam rumah mencapai sekitar 10 hingga 15 sentimeter," ujar Kuncoro.

Ia menyatakan bahwa keadaan banjir di daerah yang terkena dampak saat ini sudah mulai membaik. Namun demikian, BPBD PPU terus melakukan pengawasan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya hujan kembali. “Pada umumnya, tingkat tinggi muka air di area yang terkena dampak telah menunjukkan penurunan,” ujar beliau.

Berkoordinasi dengan IKN untuk melakukan normalisasi.

Kuncoro menjelaskan bahwa penanganan di lapangan melibatkan BPBD PPU, Otorita IKN, Babinsa, Bhabinkamtibmas, relawan, dan masyarakat setempat. Dalam usaha penanganan, BPBD PPU segera mengirimkan tim ke lokasi setelah menerima laporan.

Petugas melaksanakan pemantauan terhadap keadaan terkini ketinggian permukaan air, berkoordinasi dengan semua pihak yang terkait, serta menyerahkan bantuan logistik kepada pihak Kelurahan Mentawir untuk masyarakat yang terdampak. “Kami juga melakukan koordinasi dengan pihak Otorita IKN mengenai rencana usulan normalisasi Sungai Mentawir sebagai langkah penanganan di masa yang akan datang,” ungkap Kuncoro.



Penulis                        Raden Dede Sudrajat



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon