Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

BMKG: Hujan Lebat dan Angin Kuat Diperkirakan akan Terjadi di Banten hingga 18 Januari.

 


Blogger.com ---- Cuaca yang sangat ekstrem, termasuk hujan yang bervariasi dari sedang hingga deras dan disertai dengan angin kencang, diperkirakan akan terjadi di beberapa daerah di Provinsi Banten selama satu minggu ke depan, yaitu pada tanggal 13 hingga 18 Januari 2026.

"Berdasarkan analisis kondisi atmosfer, hujan dengan intensitas sedang sampai tinggi diprediksi akan terjadi antara tanggal 13 hingga 18 Januari 2026," kata Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Hartanto, dalam pernyataannya pada hari Selasa (13/1/2026).

Daerah Banten yang diperkirakan akan mengalami cuaca ekstrem selama satu minggu mencakup Kabupaten Pandeglang bagian barat dan selatan, Kabupaten Lebak bagian selatan, bagian barat dan timur Kabupaten Serang, Kota Serang, serta bagian barat dan utara Kabupaten Tangerang.

Sementara itu, peningkatan frekuensi hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer yang cukup penting.

Di antara faktor-faktor ini, terdapat penguatan angin monsun Asia yang lebih kuat daripada keadaan biasanya, serta terdeteksi adanya wilayah tekanan rendah di sebelah selatan Jawa Timur, di Samudra Hindia.

Keadaan tersebut menghasilkan suatu area konvergensi di kawasan Banten. Selain itu, tingkat kelembapan udara yang tinggi dan suasana yang cukup tidak stabil juga membantu terbentuknya awan konvektif dalam lingkup lokal," ungkap Hartanto.

Berdasarkan informasi dari BMKG, gabungan dinamika atmosfer itu menghasilkan cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, serta pohon tumbang di daerah-daerah yang terkena dampak.

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk waspada dan memastikan bahwa saluran air di sekitar rumah tidak terhalang. Pihaknya juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak bepergian ke lokasi yang berisiko banjir, serta menyimpan barang-barang penting dengan aman jika terjadi peningkatan hujan.

“Kami mendorong masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah berisiko bencana,” kata Hartanto.




Penulis                RDS

Nara Sumber      HRTTO


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon