Andri menyatakan bahwa sirkulasi siklonik juga terdeteksi di Kalimantan Utara, yang dapat menyebabkan terbentuknya area perlambatan angin dan pertemuan angin.
Pola itu membentang dari Sulawesi Tengah sampai Kalimantan Utara dan dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara.
Kondisi serupa diperkirakan akan terjadi di Perairan Barat Aceh, serta di Samudera Hindia bagian barat daya Bengkulu hingga bagian selatan Selat Sunda.
"Keadaan-keadaan ini mendorong perkembangan awan hujan, terutama di daerah yang terpengaruh oleh bibit siklon dan sirkulasi siklonika," jelasnya.
Sementara itu, suhu permukaan laut yang lebih hangat meningkatkan ketersediaan uap air di Pesisir Barat Aceh, Selat Malaka, perairan selatan Kepulauan Natuna, perairan Timur Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, perairan utara Jawa bagian barat, Teluk Cenderawasih, serta Samudera Pasifik utara Papua. Peningkatan tersebut menyebabkan bertambahnya curah hujan.
Andri mengungkapkan bahwa saat ini Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator masih terlihat aktif dalam periode tiga hari ke depan di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan bagian barat Papua.
"Fenomena-fenomena ini berperan dalam meningkatkan aktivitas konveksi serta kemungkinan terjadinya hujan di daerah yang terpengaruh," ungkap Andri.
Secara regional, ia menjelaskan bahwa fenomena masuknya udara dingin dari Asia diperkirakan akan semakin kuat dalam beberapa hari ke depan.
Menurut ramalan BMKG sampai hari Kamis (8/1/2026), keadaan cuaca di Indonesia secara umum akan didominasi oleh awan dan hujan ringan.
Andri mencatat, wilayah yang harus diwaspadai karena hujan dengan intensitas sedang adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, serta Bengkulu.
Selanjutnya, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
BMKG juga memprediksi, gelombang dengan ketinggian 2,5 meter hingga empat meter akan terjadi di Samudera Hindia barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Samudera Hindia selatan Banten hingga Jawa Timur, serta Samudera Hindia selatan Bali hingga Nusa Tenggara Timur.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau kepada masyarakat dan pemerintah daerah untuk waspada terhadap perubahan kondisi cuaca yang dapat terjadi kapan saja serta risiko bencana hidrometeorologi akibat cuaca yang ekstrem.
“BMKG juga meminta masyarakat untuk secara aktif mengikuti informasi tentang prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem yang resmi dari BMKG melalui berbagai saluran informasi,” jelas Andri.
BMKG keluarkan peringatan dini cuaca hari ini. Hujan lebat hingga sangat lebat mengancam Jawa sampai Maluku, ini wilayah yang perlu waspada.(
Sebelumnya, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, telah menyatakan bahwa wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian Selatan, serta sebagian Sulawesi Selatan masih akan mengalami hujan hingga Januari 2026.
Selanjutnya, pada bulan Februari, beberapa wilayah masih mengalami hujan yang cukup lebat. Namun, di daerah pesisir timur Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan sebagian Jambi, telah mulai memasuki musim kemarau, seperti yang diungkapkan oleh Faisal dalam konferensi pers pada hari Senin (29/12/2025).
Pada bulan Maret 2026, diperkirakan akan terjadi hujan lebat di Jawa Tengah. Faisal menyatakan bahwa tingkat hujan di beberapa daerah tersebut berpotensi untuk mencapai kategori sangat tinggi, dengan curah hujan mencapai 500 milimeter.
Sumber : Kompas.com/Andri
Penulis : Raden Dede Sudrajat
Komentar
Posting Komentar