Dede Sukriya (37) saat membersihkan selokan di Cikaret, Bogor Selatan, Selasa (6/1/2026).
BOGOR, Blooger. com — Pada pagi yang cerah, di tepi sebuah selokan di Cikaret, Bogor Selatan, seorang pria berpakaian kaus oranye dan mengenakan sepatu bot karet berwarna kuning terlihat berdiri setengah membungkuk di aliran air yang mengalir.
Ia menggenggam golok, bekerja keras membersihkan lumpur yang tercampur plastik, popok, dan sampah rumah tangga yang terjebak di dasar saluran. Air mengalir dengan lembut, hampir tidak terdengar. Di atas jalan tersebut, kendaraan bermotor dengan dua roda dan empat roda beroperasi.
Pengendara sepeda motor melaju tanpa mengurangi kecepatan, beberapa menoleh sebentar, memberi salam, kadang-kadang membunyikan klakson, sementara yang lain lewat tanpa berhenti.
Di sisi lain saluran air, tumbuhnya rumput liar sangat lebat, menyembunyikan tumpukan sampah yang telah lama tersangkut pada akar tanaman. Di tempat itulah Dede Sukriya (37) hampir setiap hari berdiri, turun ke dalam saluran air, membersihkan sampah satu per satu, tanpa bantuan siapa pun.
Dede Sukriya (37) tengah mengumpulkan rumput liar di Selokan Cikaret, Bogor Selatan, Selasa (6/1/2026).
Sudah hampir satu dekade Dede melakukan pekerjaan yang tidak tertulis di struktur mana pun.
Selama bertahun-tahun, ia bergerak sendiri, membawa peralatan seadanya, menyusuri selokan dan sungai kecil di Cikaret, memunguti sampah yang terus datang.
“Saya udah hampir 10 tahun dari tahun 2015 Itu sendiri emang,‘‘ kata Dede saat berbincang dengan Blogger.com. Selokan yang seharusnya menjadi jalur air berubah menjadi tempat penumpukan sampah, terutama saat musim hujan.
Ia membawa karung, cangkul, dan motornya sendiri untuk mengangkut sampah yang dikumpulkan.
Tidak jarang ia harus bolak-balik dari ujung selokan hingga jalan utama hanya untuk memindahkan karung-karung sampah.
Namun, kini sampah-sampah yang Dede kumpulkan akan diangkut menggunakan truk oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor.
‘‘Cuman Alhamdulillah sekarang, saya baru 2 hari nih, masuk ke PU (jadi relawan) jadi sampah-sampah sekarang bisa dikumpulin nanti udah berapa karung kan ada satu mobil buat head trucker kayak gini,‘‘ kata dia.
Pernah Angkut Karung Sendiri Pada masa-masa awal, tidak ada kendaraan pengangkut yang membantu.
Sampah yang sudah dikumpulkan harus dibawa sendiri oleh Dede menggunakan sepeda motornya.
Bahkan saat tubuh lelah atau kondisi tidak memungkinkan, Dede tetap memaksakan diri turun ke selokan.
“Kalau dulu emang enggak, misalkan 40 karung saya dari ujung sana sampai ke depan bawa motor saya sendiri. Bahkan, Dede menggunakan uang sendiri untuk mengisi bahan bakar motornya.
Empat Titik Sehari Wilayah kerja Dede tidak pernah tetap.
Ia berpindah dari satu titik ke titik lain, mengikuti kondisi selokan yang menurutnya paling membutuhkan penanganan.
Ia memantau sendiri titik-titik yang rawan banjir atau penumpukan sampah.
Sehari bisa 3-4 titik, nanti saya cari lagi yang sebelah mana, monitoring sendiri,‘‘ ujar dia.
Seiring berjalannya waktu, Dede kian semangat untuk terus membereskan sampah di selokan.
Resah Melihat Air Keruh dan Banjir Bagi Dede, alasan utama melakukan semua ini sederhana.
Ia tidak tahan melihat lingkungan yang kotor, air selokan yang hitam, dan banjir yang terus berulang setiap musim hujan.
Menurutnya, selokan yang bersih bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal kesehatan dan keselamatan warga.
Ia membayangkan bagaimana jika air itu dibiarkan, menjadi sarang penyakit, nyamuk, bahkan hewan liar yang membahayakan warga sekitar.
Bekerja Sendiri Selama bertahun-tahun, Dede tidak pernah tergabung dalam organisasi lingkungan mana pun.
Ia bergerak sendiri, dengan peralatan yang ia beli sendiri, dan biaya operasional dari kantong pribadi.
Cuman sekarang-sekarang setelah saya di ini sama wali kota, Kadang pak lurah juga ngomong gini,
`Dede misalkan masih ada di wilayah mana, tolong kabarin',‘‘ kata dia.
Pernah Seharian Tak Makan Risiko pekerjaan ini tidak kecil.
Dede pernah mengalami kondisi ekstrem saat membersihkan selokan.
Ia kehabisan uang, tidak makan dan minum seharian, bahkan sempat merasa pusing di bawah terik matahari. ujar dia
Penulis: Raden Dede SudrajatNara Sumber: Dede Surkiya
Komentar
Posting Komentar