Blogger.com --- Arus lalu lintas di jalur Pantura Kudus-Pati mengalami penumpukan kendaraan yang cukup parah, mencakup lebih dari 4 kilometer, pada hari Senin (12/1/2026).
Penyebab utama dari kemacetan tersebut adalah banjir yang menggenangi ruas jalan nasional tersebut, terutama di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.
Banjir yang terjadi akibat luapan dari Sungai Dawe memiliki kedalaman sekitar 50 sentimeter, sehingga memengaruhi pergerakan kendaraan di sepanjang jalur tersebut.
Beberapa kendaraan roda dua dilaporkan mengalami masalah mesin setelah terpaksa melewati genangan air, sedangkan kendaraan berukuran besar seperti bus dan truk harus berjalan dengan kecepatan sangat rendah.
Terjebak dalam kemacetan sejak pagi hari
Kondisi ini menjadi keluhan bagi para pengguna jalan, khususnya para sopir logistik. Muhdor, seorang sopir truk yang datang dari arah Pati, mengatakan telah terjebak di tengah kemacetan selama berjam-jam.
"Saya berasal dari pangkalan truk (Klaling Kudus) tadi sejak subuh. Macet parah," kata Muhdor saat ditemui di lokasi kejadian, Senin pagi sekitar pukul 10.30 WIB. Banjir di wilayah Ngembalrejo sebenarnya sempat surut pada hari sebelumnya.
Namun, tingginya intensitas hujan di wilayah hulu menyebabkan debit air Sungai Dawe kembali meningkat hingga melimpas ke badan jalan dan permukiman warga.
Skema Buka Tutup
Untuk mengatasi kemacetan, Satlantas Polres Kudus menurunkan 10 personel untuk mengatur lalu lintas di kedua sisi jalan. Polisi menerapkan skema buka tutup jalan karena sebagian bahu jalan digunakan untuk mendirikan alat berat.
Satu unit ekskavator milik Pemerintah Kabupaten Kudus diterjunkan ke lokasi jembatan untuk membersihkan tumpukan sampah yang menghalangi aliran Sungai Dawe.
Kasatlantas Polres Kudus, AKP Royke Noldy Darean, menjelaskan bahwa kehadiran petugas di lapangan juga bertujuan untuk membantu mengevakuasi pengendara sepeda motor yang mogok akibat banjir.
"Kami menerapkan skema buka tutup jalan karena masih ada ekskavator dari Pemerintah Kabupaten Kudus yang sedang membersihkan sampah," tutur Royke.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak, mengingat cuaca ekstrem masih terjadi di wilayah Kabupaten Kudus.
"Kami mengimbau agar masyarakat menjaga keselamatan daripada kecepatan.
Perhatikan kendaraan, lebih baik tinggal di rumah saja kalau tidak ada kepentingan," tambahnya.
Status Siaga Bencana di Kudus
Secara bersamaan dengan pihak kepolisian, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana alam yang dapat terjadi kapan saja akibat cuaca yang buruk di wilayah Muria Raya "Cuaca saat ini masih ekstrem, jadi masyarakat harus hati-hati.
Jika memang ingin keluar rumah, lebih baik ditunda dulu. Lebih baik tidak usah keluar rumah," kata Sam’ani saat memberikan pernyataan tersebut di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Minggu (11/1/2026).
Sam’ani juga memastikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kudus berada dalam kondisi siaga untuk melakukan upaya mitigasi serta perbaikan terhadap infrastruktur yang rusak.
Selain ancaman banjir di jalur Pantura, cuaca ekstrem juga menyebabkan bencana longsor di wilayah dataran tinggi.
Di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, satu warga bernama Sriyatun dikabarkan meninggal dunia setelah tertimbun material longsor.
Wilayah Dukuh Kambangan yang berada di lereng Gunung Muria memang dikenal sebagai daerah rawan longsor.
Hingga saat ini, para relawan yang berasal dari TNI, Polri, dan masyarakat masih berupaya bersama-sama membersihkan material longsor yang menghalangi akses jalan.
"Terima kasih kepada anggota Polres, Kodim, relawan, dan seluruh masyarakat yang telah bersama-sama berpartisipasi dalam penanganan bencana ini," ujar Sam’ani.
Penulis RDS
Sumber. SMRNI
Komentar
Posting Komentar