Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Kapolresta Tangerang Menyangkal bahwa Ladang Jagung yang Diresmikan oleh Gibran Mengalami Gagal Panen, Menyatakan Sedang dalam Proses Evaluasi.

 

Ladang jagung program Ketahanan Pangan di Kabupaten Tangerang, Banten ditumbuhi rumput liar, Selasa (30/12/2025).

Bogor, Blogger. com – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada menegaskan bahwa berita mengenai ladang jagung dari program ketahanan pangan di Desa Bantarpanjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, yang mengalami gagal panen adalah tidak benar.

Indra menekankan bahwa ladang jagung yang diresmikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2025 saat ini masih dalam proses evaluasi teknis dan belum dapat dianggap sebagai suatu kegagalan program.

"Program pengembangan jagung ini masih dilanjutkan dan diawasi. " "Kondisi yang terlihat saat ini bukanlah tanda bahwa program ini telah berhenti atau gagal," kata Indra dalam pernyataan tertulis yang diterima Kompas. com pada Selasa (30/12/2025).

Aspek Lahan dan Intensitas Hujan

Indra menjelaskan bahwa pertumbuhan tanaman jagung pada tahap awal belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Faktor tersebut dipengaruhi oleh sifat lahan yang terdiri dari tanah merah kekuningan dengan sedikit unsur hara, lapisan tanah atas yang tipis, serta adanya campuran batuan padas.

Selain itu, hujan yang banyak dalam beberapa waktu terakhir juga berpengaruh pada terjadinya pengikisan tanah dan terbawa sebagian zat hara serta pupuk yang telah digunakan. Keadaan tersebut mengakibatkan pertumbuhan tanaman belum merata. "Beberapa tanaman tumbuh lebih rendah, dengan ukuran tongkol yang masih cukup kecil dan tidak seragam," ungkap Indra.

Menurut pendapatnya, situasi tersebut adalah tantangan teknis dalam pertanian lahan terbuka dan menjadi bahan pertimbangan untuk perbaikan di masa mendatang. Indra mengungkapkan bahwa program tanam jagung ini disusun sebagai kegiatan yang berlangsung dalam jangka menengah hingga panjang, sehingga hasil pertanian di masa mendatang dapat lebih maksimal dan berkelanjutan.

Program ini adalah kolaborasi antara Polda Banten dan Polresta Tangerang dengan PT MSD Corpora Internasional untuk mendukung ketahanan pangan di tingkat nasional.

Total luas area program adalah sekitar 50 hektare, dengan luas area tanam yang aktif sekitar 20 hektare, yang dibagi menjadi tiga blok, yaitu Blok A, Blok B, dan Blok C.

Kondisi Areal di Lapangan

Observasi Kompas. com di lahan jagung Desa Bantarpanjang pada hari Selasa, 30 Desember 2025 siang, menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman jagung tidak seragam dan terdapat beberapa area yang dipenuhi dengan rumput liar.

Di bagian depan ladang, beberapa tanaman jagung telah menghasilkan buah dengan ketinggian sekitar satu meter, dan sebagian di antaranya mulai menguning.
Di sisi belakang, terdapat banyak tanaman yang tumbuh dengan tinggi yang lebih rendah dan beberapa di antaranya tumbang, sementara rumput liar tumbuh lebih lebat sehingga menutupi tanaman jagung.

Pada siang hari tersebut, tidak tampak adanya kegiatan penjagaan di area ladang. Beberapa penduduk menggunakan tempat itu untuk mengumpulkan rumput sebagai pakan bagi hewan ternak. "Pada awalnya, terdapat seseorang yang bertugas menjaga, namun belakangan ini saya tidak pernah melihatnya," ungkap Supriatna, salah satu penduduk setempat.





Penulis                   : Raden Dede Sudrajat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon