Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Margahayu Bekasi Timur Kembali Terendam Banjir, Telah Terjadi Empat Kali dalam Dua Minggu.

 

Banjir di Gang Mawar RT 08 RW 03, Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, 

BEKASI, Blogger.com - Banjir dengan ketinggian hampir satu meter kembali menggenangi area tempat tinggal warga di Gang Mawar RT 08 RW 03, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada hari Kamis (29/1/2026). 

Seorang warga yang terdampak, Eka Cahya (37), mengungkapkan bahwa air yang mengalir dari luapan Kali Bekasi akibat hujan lebat telah merendam rumah-rumah penduduk dengan ketinggian yang bervariasi, berkisar antara 70 hingga 90 sentimeter.

Kedalaman banjir diperkirakan setinggi lutut orang dewasa, yakni sekitar 70 sentimeter. "Namun, jika semakin mendekat ke sungai, kedalamannya dapat mencapai 90 sentimeter," ujar Eka, seperti dikutip dari Tribunnews. 


Eka menyatakan bahwa air mulai naik sejak pukul 08. 00 WIB. Sebelumnya, pada Rabu (28/1/2026) malam, air pernah mencapai depan pintu rumahnya sekitar pukul 01. 00 WIB sebelum akhirnya surut menjelang pagi.

Tadi malam pada pukul satu, saya sudah tiba di depan pintu rumah. Sekitar jam dua, aktivitas mulai berkurang; setelah sholat subuh, penduduk mulai membersihkan lingkungan. "Namun pagi ini naik lagi sekitar pukul setengah lima," katanya.

Sebagai akibat dari banjir, sejumlah penduduk harus memindahkan barang-barang mereka ke tempat yang lebih tinggi guna mencegah dampak dari kenaikan air yang lebih serius.

Kini telah meningkat kembali. "Semua barang telah diangkat, mengingat pengalaman yang terjadi saat puasa sebelumnya," ujarnya. 

Selain membanjiri rumah-rumah, banjir juga mengakibatkan jalan-jalan di area tersebut tidak dapat dilalui oleh kendaraan, yang membuat kegiatan masyarakat terganggu.

Eka menjelaskan bahwa dia yang sehari-hari berdagang tempe dan tahu juga mengalami kesulitan dalam menjalankan usahanya. 

Risikonya sangat mengganggu. “Kami menjual tempe dan tahu, sehingga sulit untuk memasarkan,” ujarnya.

Menurut Eka, banjir di daerahnya telah terjadi beberapa kali dalam dua minggu terakhir, dan penduduk mengawasi kemungkinan kenaikan air melalui grup pemantauan yang berasal dari KP2C. 


“Dalam dua minggu terakhir, telah terjadi hampir empat kali banjir. Menurut informasi dari grup KP2C, dikatakan bahwa pihak berwenang telah dalam keadaan siaga, sehingga ada kemungkinan air akan naik lagi,” tuturnya. Sementara itu, Asep (54) menuturkan bahwa sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) terpengaruh oleh banjir di daerah tersebut.

Meskipun air telah masuk ke dalam rumah, sebagian besar penduduk masih memilih untuk tetap tinggal, dan beberapa di antaranya bertahan di lantai dua. 

"Masih ada beberapa orang yang tinggal di rumah, belum ada yang mengungsi, beberapa dari mereka bertahan di lantai dua," kata Asep.

Ia mengharapkan bahwa pemerintah daerah segera memberikan bantuan, mengingat akses bagi warga saat ini cukup sulit dan hingga saat ini belum ada bantuan yang diterima. 

"Diharapkan ada dukungan, karena kami mengalami kesulitan dalam akses, dan juga sulit untuk meninggalkan rumah," ujarnya.




Nara Sumber.      Eka Cahya ( Warga Sekitar )


Penulis Berita.    Raden Dede Sudrajat 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon