Sejumlah kendaraan tengah melintas di Jalur Puncak, Ciloto, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (30/12/2025). Pengendara diimbau waspada karena ada beberapa titik rawan longsor dan pohon tumbang di jalur wisata tersebut.
Blogger.com --- Kabupaten Cianjur, yang terletak di Jawa Barat, berada dalam keadaan siaga terhadap bencana hidrometeorologi hingga bulan Mei 2026 akibat cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras, sambil disertai oleh petir dan angin kencang.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Asep Sudrajat, mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana, salah satu caranya adalah dengan menyiapkan tas siap siaga bencana.
Menurut Asep, sebaiknya setiap warga memiliki tas siaga bencana, atau setidaknya setiap rumah tangga memiliki satu tas utama, terutama bagi mereka yang tinggal di zona merah atau daerah yang sering terkena bencana.
"Barang-barangnya dapat meliputi obat-obatan atau peralatan P3K, jas hujan, senter, alat komunikasi, serta peralatan dan perlengkapan lain yang diperlukan," kata Asep kepada Kompas. com melalui telepon pada Selasa (20/1/2026).
Selain itu, dokumen-dokumen penting dan berharga juga perlu dimasukkan ke dalam plastik yang tidak tembus udara dan disimpan di lokasi yang mudah dijangkau.
Asep menyatakan bahwa masyarakat harus memiliki pengetahuan tentang mitigasi bencana agar dapat mencegah terjadinya korban jiwa dan mengurangi kerugian harta benda.
"Curah hujan yang sangat tinggi saat ini dapat menyebabkan terjadinya pergerakan tanah, longsoran, banjir, serta tumbangnya pohon," ucapnya.
Relawan untuk Penanggulangan Bencana
Selanjutnya, dinyatakan bahwa BPBD Cianjur telah mengirimkan surat ke tingkat kecamatan sampai desa mengenai ajakan untuk siap menghadapi bencana, termasuk kesiapan Relawan Tanggap Bencana (Retana).
"Kami memiliki relawan di setiap desa yang siap siaga menghadapi dampak dari cuaca ekstrem serta potensi bencana ini," katanya.
Selain itu, BPBD Cianjur bersama lembaga terkait telah melakukan langkah-langkah penanganan untuk mengurangi risiko bencana, seperti memangkas pohon kakija (di kanan dan kiri jalan) yang telah lapuk dan berisiko tumbang.
"Asep menyatakan bahwa berbagai rambu peringatan telah dipasang di banyak tempat, terutama di lokasi-lokasi yang berisiko tinggi terhadap bencana. "
Konsekuensi Bencana
Asep menyatakan bahwa seluruh daerah di Cianjur berisiko mengalami bencana yang disebabkan oleh cuaca, seperti tanah bergerak, longsor, banjir, gelombang tinggi, angin kencang, dan juga kekeringan.
"Selama tahun 2025, BPBD Cianjur mencatat 243 kejadian bencana, yang meliputi 125 kejadian tanah longsor dan pergeseran tanah, 49 kejadian banjir, serta 69 kejadian yang disebabkan oleh cuaca ekstrem," kata Asep.
"Dari semua peristiwa tersebut, satu individu dilaporkan meninggal, 2. 200 rumah mengalami kerusakan, dan 12. 837 orang terkena dampak serta sempat mengungsi," ungkapnya.
Nara sumber Asep Sudrajat
Penulis. Raden Dede Sudrajat
Komentar
Posting Komentar