Boneka pocong terlihat disekitar tumpukan sampah liar di Jalan Kaliabang Ceger, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi. Jumat (16/1/2026).
Blogger.com --- Keberadaan sampah liar yang terus mengular di sepanjang Jalan Kaliabang Ceger, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, semakin membuat resah warga. Berbagai usaha pencegahan telah dilakukan, mulai dari pemasangan banner larangan hingga kamera pemantau (CCTV), namun para pembuang sampah ilegal tetap saja tidak jera.
“Di sini terpasang kamera CCTV, tetapi tetap ada orang yang membuang sampah sembarangan. Habis membuang, langsung pergi, jadi tidak terlihat wajahnya,” ujar Nean (45), petugas kebersihan dan juga warga setempat, Jumat (16/1/2026).
Tidak hanya mengandalkan pemantauan, petugas kebersihan bahkan mencoba cara kreatif untuk menekan tindakan pembuangan sampah liar, yaitu dengan memasang boneka berbentuk pocong di sekitar lokasi.
Nean menjelaskan, boneka tersebut dibuat dari limbah yang tidak terpakai oleh petugas kebersihan dengan harapan dapat menimbulkan efek jera. “Itu petugas sampah yang menggantung boneka pocong. Jadi ada bantal terbuat dari sampah, lalu dia ikat dan gantung.
Tujuannya agar orang yang membuang sampah takut karena ada pocong di sini,” kata Nean. Namun, berbagai usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sampah tetap berdatangan, bahkan tidak hanya dari warga sekitar.
“Di sini bukan hanya sampah rumah tangga. Ada kasur, kayu, dan banyak lagi. Namanya di jalan, orang lewat gampang banget, tinggal buang. Dalam sehari saja, sudah menumpuk sampahnya,” ujar Nean. Kondisi ini juga dikeluhkan oleh warga sekitar. Rahmat (39) mengaku resah karena tumpukan sampah sering menyebabkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas warga.
“Sebagai warga, saya keberatan jika orang luar membuang sampah di sini. Mereka enak tidak terkena dampaknya, kami di sini setiap hari mencium bau busuk,” ujar Rahmat.
Ia juga mengkhawatirkan dampak kesehatan akibat sampah yang dibiarkan menumpuk di jalan. “Namanya kotoran, takutnya menyebarkan penyakit. Saya saja kalau lewat sini kadang merinding dan gatal-gatal melihat belatung berserakan,” katanya.
Rahmat berharap pemerintah dapat mengambil tindakan tegas terhadap pelaku pembuangan sampah liar dan menyediakan solusi pengelolaan sampah yang lebih aman dan teratur. “Harapan saya pemerintah bisa tegas. Setidaknya tempat pembuangan jangan berada di badan jalan yang digunakan orang berkendara,” ujarnya. Sebelumnya, tumpukan sampah di Jalan Kaliabang Ceger pernah membahayakan pengguna jalan karena menyempitkan lajur jalan dan menimbulkan bau yang menyengat.
Nean menyebut, usaha menegur pelaku pembuangan sampah sering berakhir dengan adu argumen karena sebagian besar pelakunya bukan warga setempat. Pantauan Kompas.com di lokasi menunjukkan bau menyengat masih terasa kuat, terutama dari sampah rumah tangga yang membusuk.
Sampah plastik, sisa makanan, hingga limbah dapur bercampur dengan barang besar seperti balok kayu dan kasur yang dibuang di tepi jalan.
Di salah satu titik, sebuah truk pengangkut sampah terlihat terparkir dalam keadaan penuh. Kendaraan tersebut belum dapat membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu karena kondisi TPA yang sudah melebihi kapasitas, sehingga sebagian sampah terpaksa menumpuk lebih lama di lokasi.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Sampah dan Kemitraan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Andy Frengky, mengatakan bahwa kondisi TPA Sumur Batu yang terlalu penuh berdampak langsung pada pelayanan pengangkutan sampah di wilayah Kota Bekasi. “Jadi memang Kota Bekasi sekarang berada dalam keadaan darurat sampah, di mana TPA Sumur Batu itu sudah overload,” ujar Andy.
Nara Sumber AN
Penulis RDS
Komentar
Posting Komentar