Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Walhi: Banjir di Jawa Tengah Terjadi Akibat Deforestasi Besar-besaran, 11. 000 Hektar dalam 10 Tahun.

 

Kondisi Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga pasca banjir bandang.

Blogger.com ----- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) wilayah Jawa Tengah telah mengidentifikasi bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, seluas 11. 179 hektar hutan di Jawa Tengah mengalami penebangan pohon. Oleh karena itu, menurut Walhi Jateng, bencana banjir yang sering terjadi di berbagai daerah Jawa Tengah tidak dapat lagi dianggap sebagai fenomena alam semata.

Staf Kampanye Walhi Jateng, Zalya Tilaar, menjelaskan bahwa bencana ini adalah contoh bencana ekologis yang muncul dari krisis lingkungan yang disebabkan oleh kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang tidak adil dan bersifat eksploitatif. Banjir di Jawa Tengah disebabkan oleh cepatnya kerusakan lahan dan penebangan hutan yang besar-besaran.

Antara tahun 2014 hingga 2024, Jawa Tengah mengalami penurunan jumlah hutan sekitar 11. 000 hektar, terutama di area hutan terlindungi dan hutan yang digunakan untuk produksi,” ujar Zalya pada acara diskusi mengenai perbaikan lingkungan di Rumah Uskup Pandanaran, Kota Semarang, pada hari Rabu (28/1/2026)

Walhi membagi wilayah Jawa Tengah menjadi tiga area ekologis utama, yaitu daerah pesisir utara, pesisir selatan, dan pegunungan tengah. Ia menyatakan bahwa deforestasi di hutan lindung paling banyak berlangsung di Kabupaten Brebes, Cilacap, dan Grobogan.

Dampak penggundulan hutan dan perubahan fungsi lahan banyak ditemui di kawasan penangkap air di bagian hulu. Tempat tersebut juga memiliki tingkat kegiatan industri dan sektor ekstraktif, seperti penambangan, hak guna usaha perkebunan, izin penggunaan kawasan hutan, hingga pengembangan sektor energi di wilayah pegunungan.

Dampak banjir mencapai area seluas 297. 000 hektar.

Ia berpendapat bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini adalah hasil dari kebijakan dan praktik yang dilakukan di masa lalu. Dampak dari krisis ini tidak hanya dirasakan oleh generasi yang hidup saat ini, tetapi juga akan diturunkan kepada generasi yang akan datang. "Krisis di masa kini merupakan akibat dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. " “Dan dampak krisis saat ini akan dirasakan oleh generasi mendatang,” ujarnya.

Dia menyatakan bahwa banjir di Jawa Tengah kini telah menjadi bencana tahunan yang dapat terjadi berulang kali dalam satu tahun. Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk periode 2024–2025, area yang terkena dampak banjir di Jawa Tengah mencapai sekitar 297. 000 hektar dan melibatkan 28 kabupaten/kota.

Zalya mengungkapkan bahwa penyebab banjir sangat rumit dan saling berhubungan antara daerah hulu dan hilir. Di area pesisir, banjir tidak hanya dipicu oleh rob, tetapi juga oleh banjir yang datang dari hulu, banjir lokal, serta rob yang terjadi secara bersamaan.

Di area pantai, kerusakan hutan mangrove yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan banjir rob juga menjadi perhatian. Dia menyatakan bahwa mangrove memerlukan waktu 5–10 tahun untuk mencapai pertumbuhan dewasa dan berfungsi secara optimal. Namun, sekitar 46 hektar area hutan mangrove justru ditebang untuk kepentingan proyek Tol Tanggul Laut Semarang–Demak. Meskipun tampak kecil, pengaruhnya dianggap signifikan terhadap ketahanan pesisir.

Ia menyatakan bahwa akibat dari bencana ekologis tidak hanya berhubungan dengan kerugian ekonomi, tetapi juga mencakup pemenuhan hak dasar warga negara untuk mendapatkan lingkungan yang aman, sehat, dan layak.

Walhi menekankan kepada pemerintah agar menjamin akses kepada air bersih, sanitasi yang memadai, lingkungan yang berkelanjutan, serta pelayanan kesehatan yang adil dan terjangkau untuk seluruh masyarakat. Ia berkeyakinan bahwa keadilan harus ditegakkan terlebih dahulu sebelum keberlanjutan lingkungan dapat terwujud.

Termasuk dengan menghentikan kebijakan yang mengizinkan penggundulan hutan dan perubahan penggunaan lahan dari daerah hulu hingga pesisir. "Apakah negara mampu untuk memenuhi dan melindungi hak-hak warganya di atas lingkungan yang telah rusak akibat bencana yang disebabkan oleh kebijakan negara tersebut? " ujarnya.


Nara Sumber.                     Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi )

                                               Zalya Tilaar

Penulis Berita.                    Raden Dede Sudrajat 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon