Kode iklan di atas

Kronologi Penemuan Macan Tutul Terjerat di Permukiman Warga Gunung Mas Puncak Bogor, Berasal dari Gunung Pangrango.

Gambar
  Petugas saat mengevakuasi macan tutul yang masuk ke permukiman warga di Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jumat, 3 April 2026. Blogger.com  - Sebuah macan tutul yang ditemukan di lingkungan Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Cisarua, diketahui berasal dari hutan Gunung Pangrango. Saat ini, satwa liar tersebut sedang ditangani oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerja sama dengan tim Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor. Asisten Manajer Legal dan Umum PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2, Asep Zaenal Muttaqin menjelaskan bahwa macan tutul tersebut berasal dari pegunungan dan memasuki permukiman warga Gunung Mas sebelum terjerat. “Satwa ini datang dari kawasan Pegunungan Pangrango, memasuki kawasan Gunung Mas, lalu terjebak dalam jeratan dan kemudian diberi bius oleh pihak BKSDA dan Taman Safari,” ujarnya pada hari Jumat, 3 April 2026. Asep menambahkan bahwa keberadaan macan tutul ini telah diketahui oleh warga, terutama di Kampung Batik. Satwa tersebu...

121 Ton Ikan Tewas Secara Mendadak di Waduk Saguling dan Cirata Disebabkan oleh Umbalan, Apa Itu?

 

Tangkapan layar video viral kematian ikan di keramba jaring apung (KJA) perairan waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, 

Blogger.com -------- Sebanyak 121,8 ton ikan di keramba jaring apung (KJA) Waduk Saguling dan Waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mengalami kematian dalam rentang waktu empat hari, yakni dari tanggal 24 hingga 27 Januari 2026. Kematian massal tersebut disebabkan oleh fenomena umbalan yang terjadi karena cuaca ekstrem, yang mempengaruhi kualitas air di waduk.

Data dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat menunjukkan bahwa angka kematian ikan tertinggi terjadi di Waduk Saguling dan menjangkau beberapa area perairan, yaitu Cililin, Cihampelas, Cipongkor, dan Saguling.

Beberapa lokasi dengan angka kematian tertinggi meliputi Blok Pakuwon yang mencapai 28 ton, Perlas 20 ton, dan Bojonglangkap 12,5 ton.

Jenis ikan yang paling sering mengalami kematian adalah ikan nila dan ikan mas yang dimiliki oleh para pengusaha budidaya keramba. Sementara itu, di Waduk Cirata, kematian ikan juga dilaporkan terjadi di beberapa blok perairan seperti Cibungur, Citatah, Sangkali, Cibogo, Gandasoli, Cigandu, dan Cipanas. Namun, jumlah kematian ikan di setiap lokasi tercatat di bawah satu kuintal.

Tanggapan dari Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan

Kepala Dispernakan Bandung Barat, Wiwin Aprianti, menyatakan bahwa kematian ikan secara massal terjadi hampir bersamaan di berbagai blok keramba dan berhubungan dengan fenomena umbalan. Yaitu pergerakan massa air dari dasar waduk ke permukaan yang mengangkut bahan berbahaya dan menurunkan level oksigen terlarut.

"Hal ini disebabkan oleh cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. " "Telah terjadi perubahan arah pergerakan massa air atau umbalan yang menyebabkan penurunan kualitas air yang signifikan, sehingga ikan tidak dapat bertahan," jelas Wiwin saat diwawancarai, Senin (2/2/2026).

Menurut beliau, kejadian ini berpengaruh langsung terhadap kegiatan budidaya dan menjadi indikator bahwa daya dukung perairan sedang mengalami tekanan. Dinas yang bersangkutan telah mengirimkan surat peringatan awal mengenai kemungkinan terjadinya kematian massal ikan di perairan umum kepada para pembudidaya keramba.

Imbauan tersebut meliputi penurunan kepadatan tebar serta peningkatan pengawasan terhadap kualitas air. Kami telah menyampaikan surat peringatan jauh sebelumnya. Kondisi cuaca, pergerakan air, dan beban pada keramba harus diperhatikan. "Apabila kapasitas tampungan waduk terlampaui, risikonya dapat menyebabkan terjadinya kematian dalam jumlah besar seperti ini," ujar Wiwin.

Data mengenai kematian ikan dikumpulkan dari laporan para pengepul serta bagian dari pelaku budidaya keramba yang berada di wilayah Waduk Saguling dan Cirata. Dinas mengingatkan para pembudidaya agar tidak menambah kepadatan penebaran dalam waktu dekat dan tetap disiplin dalam melaksanakan langkah-langkah mitigasi.

“Kami mengimbau kepada para pembudidaya agar meningkatkan kewaspadaan dan secara teratur memeriksa kualitas air guna mengurangi kemungkinan terjadinya peristiwa serupa,” tegasnya.






Nara Sumber.            Wiwin Aprianti ( Kepala Dispernakan Bandung Barat )


Penulis Berita.          Raden Dede Sudrajat 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon