Kode iklan di atas
Aroma Mawar dari Lereng Wilis: Cerita Tentang Para Wanita di Candirejo yang Memperoleh Kebaikan Sebelum Ramadhan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Beberapa ibu-ibu tengah menjajakan kembang tabur di tepi barat Jalan Diponegoro Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, |
Kabupaten Nganjuk, Blogger.com ----- Aroma wangi dari daun pandan dan bunga mawar menyebar di sepanjang sisi barat Jalan Diponegoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Sejumlah ibu-ibu paruh baya terlihat duduk tertata rapi di dekat Terminal Lama Nganjuk, menjual barang dagangan yang kini sedang dicari oleh masyarakat: bunga tabur untuk keperluan ziarah kubur.
Pemandangan ini adalah kegiatan rutin yang berlangsung setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Di antara berbagai warna mawar, kenanga, kantil, dan kamboja, juga terdapat botol kecil berisi minyak wangi yang menambah makna tradisi ziarah ke makam nenek moyang.
Lilik (54 tahun), penduduk Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, merupakan salah satu penjual yang setia mencoba keberuntungannya di pusat kota Nganjuk. Ia menyatakan bahwa ia telah menjalani pekerjaan musiman ini selama lebih dari sepuluh tahun.
Semua penjual di sini berasal dari masyarakat Kalangan (Desa Candirejo). "Saya telah menjalankan usaha penjualan bunga ini selama 15 tahun," kata Lilik kepada wartawan di Nganjuk pada hari Senin (16/2/2026) sore.
Penjualan Meningkat Secara Drastis
Setiap hari, Lilik sebenarnya berdagang di area Loceret. Akan tetapi, setiap kali mendekati bulan puasa, ia dengan sengaja berpindah ke Jalan Diponegoro karena lokasi tersebut lebih strategis dan banyak dilalui oleh warga dari berbagai sudut kota.
Saya telah berjualan di sini sejak hari Jumat, tanggal 13 Februari 2026, yang lalu. "Namun setiap tahun menjelang bulan Ramadan selalu berada di sini," jelas Lilik.
Keberkahan yang hadir menjelang Ramadhan sangat dirasakan oleh para pedagang. Lilik menyatakan bahwa jumlah penjualannya mengalami peningkatan yang signifikan, berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Jika biasanya ia hanya terjual 25 hingga 30 kantong, sekarang ia dapat menjual hingga 100 kantong bunga tabur dalam satu hari. Satu kantong plastik dijual seharga Rp 5. 000. Terdiri dari bunga pandan, mawar, kenanga, dan kantil," jelas Lilik mengenai isi produk yang diperdagangkannya.
Bunga Segar dari Puncak Gunung Wilis
Bunga-bunga yang dijual oleh Lilik bukanlah bunga biasa. Ia mengirimkan pasokan bunga segar tersebut secara langsung dari daerah Sawahan dan kawasan lereng Gunung Wilis yang terkenal sebagai pusat penghasil bunga di Nganjuk. Pembelian dari Sawahan. "Selanjutnya, saya membagi menjadi kantong-kantong kecil dengan harga Rp 5 ribu masing-masing," jelasnya.
Walaupun terdapat persaingan yang cukup sengit dengan lebih dari 15 penjual di area yang sama, Lilik menjamin bahwa tidak ada konflik di antara para pedagang. Mereka telah mencapai kesepakatan untuk menetapkan harga yang sama agar dapat menjaga kenyamanan bersama dan mencegah adanya persaingan harga yang tidak wajar.
Tradisi mengunjungi makam ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir pekan ini, sebelum umat Muslim memulai puasa Ramadhan 1447 Hijriah.
Nara Sumber. Lilik ( Warga Sekitar )
Penulis Berita. Raden Dede Sudrajat
Referensi. Surabaya.kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar