Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Badan Geologi Ungkap Sinkhole Situjuah Fenomena Pseudokarst Langka, Ingatkan Pelebaran dan Imbauan

 

Lubang besar di Limapuluh Kota, Minggu (4/1/2025). Air jernih dari sinkhole di Limapuluh Kota yang sempat diambil warga dipastikan mengandung bakteri E. coli berdasarkan hasil pemeriksaan pemerintah.

Blogger.com ----- Badan Geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menjelaskan asal usul kemunculan lubang besar atau sinkhole yang menarik perhatian masyarakat di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Melalui pemeriksaan cepat selama tiga hari pada 9-11 Januari 2026 dan analisis di laboratorium, fenomena ini terbukti bukan hanya sekadar lubang amblas biasa, melainkan sebuah kejadian langka yang disebut Sinkhole Situjuah.

Ahli Geologi Teknik dari Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, menyatakan bahwa penemuan ini sangat istimewa karena secara ilmiah termasuk dalam kelompok pseudokarst atau karst semu. "Yang membuatnya unik adalah sinkhole ini terbentuk dari material vulkanik atau endapan gunung berapi, bukan dari batu gamping seperti yang sering ditemui pada karst umum," kata Taufiq kepada Kompas. com, Minggu (8/2/2026).

Mekanisme Erosi

Taufiq menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena mekanisme erosi buluh (soil piping), yaitu pengikisan internal yang perlahan menghilangkan partikel tanah dan membentuk saluran alami di bawah permukaan. Proses geologi ini dimulai ketika sungai purba yang ada di atas lapisan tuf lapili tertutupi oleh endapan dari aktivitas vulkanik seiring berjalannya waktu.

Secara bersamaan, retakan vertikal muncul dari atas tanah sampai terhubung dengan aliran air di bawahnya. "Air yang banyak dari hujan dan air tanah mengikis tanah dari bagian dalam. Ketika tekanan di dalam rongga sudah tidak dapat ditahan lagi, beban di atasnya tidak dapat suportir sehingga tanah amblas," ujar Taufiq.

Menariknya, air yang menggenang di dalam lubang menunjukkan warna biru cerah yang sempat memicu spekulasi di kalangan warga. Namun, Taufiq menekankan secara ilmiah bahwa warna biru itu adalah fenomena optik yang disebabkan oleh partikel kecil atau zat terlarut yang memantulkan cahaya biru ke mata manusia.

Potensi Pelebaran

Badan Geologi memberikan peringatan bahwa Sinkhole Situjuah berpotensi untuk melebar, khususnya ke arah Tenggara hingga Barat Laut. Di sisi lain, jarak aman ditetapkan sejauh 17 meter ke arah Barat Daya-Timur Laut dan 30 meter ke arah Tenggara-Barat Laut dari tepi lubang.

Taufiq juga menunjukkan bahwa wilayah sekitar memiliki kerentanan tinggi, di mana sebagian lokasi di Nagari Situjuah Batua dan Nagari Tungka di sisi Barat Daya sinkhole dianggap lebih berisiko dibandingkan sisi Timur Laut. "Kemungkinan munculnya lubang baru masih ada di sepanjang jalur sungai bawah tanah, tetapi sifatnya lokal dan tidak menyebar secara luas," tambahnya.

Opsi Penanganan dan Imbauan

Dalam hal penanganan, Badan Geologi mengajukan dua pilihan: membiarkan lubang tetap terbuka sebagai area alami dengan pengawasan ketat di radius aman atau melakukan penguatan tebing melalui teknik sipil untuk mencegah pelebaran.

Taufiq meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mempercayai cerita mistis atau isu-isu yang menyatakan bahwa air di lubang memiliki khasiat tertentu.

Menurut hasil uji laboratorium, tingkat keasaman (pH) air berada di kisaran agak asam hingga netral, mirip dengan air pada umumnya. Warga diharapkan untuk lebih waspada dengan mengurangi penyerapan air berlebihan di tanah yang diduga memiliki sungai bawah tanah serta memastikan saluran drainase rumah tidak bocor ke area berisiko.

"Jika dikelola dengan baik dan keamanannya terjamin, Sinkhole Situjuah dapat menjadi peluang besar untuk dijadikan destinasi wisata edukasi geologi bagi masyarakat," jelas Taufiq.



Nara Sumber.  Taufiq Wira Buana ( Ahli Geologi Teknik dari Badan Geologi Kementerian ESDM, )


Penulis Berita.  Raden Dede Sudrajat 


Referensi.          Regional.kompas.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon