Kode iklan di atas

Kronologi Penemuan Macan Tutul Terjerat di Permukiman Warga Gunung Mas Puncak Bogor, Berasal dari Gunung Pangrango.

Gambar
  Petugas saat mengevakuasi macan tutul yang masuk ke permukiman warga di Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jumat, 3 April 2026. Blogger.com  - Sebuah macan tutul yang ditemukan di lingkungan Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Cisarua, diketahui berasal dari hutan Gunung Pangrango. Saat ini, satwa liar tersebut sedang ditangani oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerja sama dengan tim Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor. Asisten Manajer Legal dan Umum PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2, Asep Zaenal Muttaqin menjelaskan bahwa macan tutul tersebut berasal dari pegunungan dan memasuki permukiman warga Gunung Mas sebelum terjerat. “Satwa ini datang dari kawasan Pegunungan Pangrango, memasuki kawasan Gunung Mas, lalu terjebak dalam jeratan dan kemudian diberi bius oleh pihak BKSDA dan Taman Safari,” ujarnya pada hari Jumat, 3 April 2026. Asep menambahkan bahwa keberadaan macan tutul ini telah diketahui oleh warga, terutama di Kampung Batik. Satwa tersebu...

Banjir di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Bogor, sudah mulai surut, tetapi ratusan penduduk masih terdampak.

 

Pantauan Radar Bogor dilokasi bencana pasca kejadian banjir bandang di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Kamis, 12 Februari 2026.

Babakan Madang, Blogger.com ----- Kondisi banjir di Kampung Cicerewed, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor mulai membaik, pada hari Kamis, 12 Februari 2026.

Menurut pengamatan Radar Bogor di lokasi, masyarakat telah mulai membersihkan sisa-sisa lumpur dan memperbaiki rumah-rumah yang rusak akibat banjir yang melanda wilayah tersebut, dengan bantuan dari Tim BPBD, Damkar, Polri, dan pemerintah setempat.

Sebanyak 160 kepala keluarga (KK) mengalami dampak akibat peristiwa tersebut. Sebanyak delapan rumah dilaporkan mengalami kerusakan yang serius akibat banjir yang pernah mencapai ketinggian dua meter di berbagai lokasi.

Ini cukup serius untuk awal tahun 2026 ini, yang berarti sudah terjadi dua kali. “Tingginya permukaan air mencapai 2 meter, dan ada pula yang berada di sekitar 180 sentimeter,” tutur Kepala Desa Cijayanti, Ahmad Paojan, ketika dihubungi Radar Bogor, pada hari Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, meskipun air mencapai kedalaman dua meter di beberapa tempat, banjir tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Air dikatakan surut dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Ketika banjir melanda, beberapa warga memilih untuk pindah ke lokasi yang lebih tinggi guna menghindari genangan air.

"Situasi saat ini, masyarakat memerlukan berbagai bantuan seperti matras, pakaian, peralatan mandi, dan bahan pokok," jelasnya.

Sebagai tindakan darurat, Pemerintah Desa Cijayanti menugaskan tim Destana (Desa Tangguh Bencana) bersama perangkat desa. Pihak desa juga berkolaborasi dengan pelaku usaha di daerah tersebut untuk memberikan bantuan kepada warga yang terkena dampak.

"Dikawasan kami terdapat Laundry Hermina, kami meminta agar pakaian masyarakat yang terdampak dapat dicuci di sana tanpa biaya," ujarnya.

Terkait dengan rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan parah, Paojan menyampaikan bahwa Bupati telah memberikan instruksi agar warga diberikan bantuan untuk tempat tinggal sementara. Namun, sampai saat ini, sebagian penduduk masih memilih untuk tetap tinggal.

"Potensi terjadinya banjir lanjutan pasti ada. " Banyak warga yang telah memberikan saran untuk melakukan relokasi. "Saya juga sedang menantikan petunjuk dari pimpinan, semoga ada solusi," katanya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas PUPR telah mengirimkan dua unit alat berat untuk melakukan normalisasi sungai sebagai upaya mencegah banjir berikutnya.

Paojan menyatakan bahwa banjir tersebut disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan minimnya kemampuan tanah untuk menyerap air, terutama karena hulu Desa Cijayanti merupakan area pemukiman besar seperti Sentul City.

“Sebaiknya di hulu dibuat sumber-sumber resapan, atau jika tidak memungkinkan, dibangun danau. ” Oleh karena itu, pastikan air tersebut tidak dibuang langsung ke sungai. "Ini adalah Kali Cisarapati, Kali Cijayanti, dan Kali Cikeas," tuturnya.



Nara Sumber         Ahmad Paojan  ( Kepala Desa Cijayanti )


Penulis Berita        Raden Dede Sudrajat


Referensi              Radarbogor.jawapos.com






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon