Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Ekonomis! Dengan modal sebesar Rp 20 ribu, Anda dapat merayakan Hari Valentine secara romantis di Telaga Sarangan

 

Pasangan muda mudi memilih Telaga sarangan sebagai lokasi menikmati hari kasih sayang sambil menikmati sejuknya udara di telaga yang berada di bawah kaki Gunung Lawu.

Blogger.com ------ Hari Kasih Sayang menjadi kesempatan bagi banyak pasangan muda untuk menikmati waktu bersama di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan. Pesona telaga di kaki Gunung Lawu ini menjadi atraksi utama bagi mereka yang ingin menikmati waktu libur bertepatan dengan Hari Valentine, pada hari Sabtu (14/2/2026).

Sejak pagi, tempat wisata yang populer ini terlihat dipadati oleh pengunjung, khususnya dari kalangan remaja. Pasangan yang berasal dari Kota Madiun, Dira (21) dan Agung (25), menyatakan bahwa mereka sengaja datang untuk menghilangkan kebosanan dari kegiatan sehari-hari di tempat kerja sektor swasta.

Pasangan yang telah menikah selama satu tahun ini memilih untuk menikmati suasana dingin di daerah pegunungan.

Kami ingin merasakan liburan dari pekerjaan dan menikmati suasana sejuk di Telaga Sarangan. “Karena Hari Kasih Sayang bertepatan dengan hari libur,” kata Dira ketika dijumpai di lokasi.

Menurut mereka, meskipun sudah resmi menjadi pasangan suami istri, merayakan cinta dengan cara yang sederhana seperti menikmati keindahan alam adalah hal yang krusial sebelum memulai bulan suci Ramadhan. 

"Ketika bulan puasa tiba, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi untuk menikmati waktu libur. " "Tetaplah berkonsentrasi pada sasaran kebutuhan Hari Raya Lebaran," tambah Agung.

Wisata yang Terjangkau untuk Pelajar

Tidak hanya pasangan suami istri, suasana romantis di Sarangan juga menarik perhatian para pelajar. Dila dan Doni, pasangan yang berasal dari Bojonegoro, memutuskan untuk berkunjung sebelum memulai rencana liburan panjang.

Doni yang masih berada di kelas 3 SMA berencana untuk mengunjungi keluarganya di Lampung dalam waktu yang dekat. Saya harus pergi ke Lampung untuk mengunjungi sanak saudara selama liburan sekolah. “Sebelum pergi, kami ingin merasakan suasana Telaga Sarangan pada Hari Valentine ini,” kata Doni.

Menurut Doni, keindahan Telaga Sarangan sangat terjangkau bagi pelajar. Dengan tiket masuk seharga sekitar Rp 20 ribu, pengunjung dapat menikmati pemandangan serta makanan khas seperti sate kelinci. 

“Di tepi danau terdapat banyak kios yang terletak di tempat yang strategis dan memiliki harga yang transparan, sehingga tetap terjangkau untuk anggaran kami,” tambahnya.

Harapan Penjual Bunga di Saat Terjadi Longsor


Sejumlah pedagang di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, mengaku mengalami penurunan jumlah pembeli pasca longsor di tebing sisi selatan telaga. Longsor tersebut membuat jalur di sisi selatan ditutup total demi alasan keselamatan

Silvi menyatakan bahwa penjualan bunga mengalami penurunan yang signifikan setelah terjadinya keruntuhan jalur selatan Telaga Sarangan beberapa waktu yang lalu. Letak lapak yang dekat dengan titik longsor menyebabkan akses dan ketertarikan pembeli menurun secara drastis. 

“Sejak terjadinya tanah longsor di jalur selatan kemarin, keadaan pembeli menjadi agak sepi. ” "Umumnya, dalam seminggu, saya dapat mengambil stok bunga ke Malang sebanyak dua kali; namun, setelah terjadinya longsor, frekuensinya menjadi hanya sekali," ungkap Silvi. 

Meskipun terpengaruh oleh akibat longsor, ia tetap percaya bahwa momen Hari Kasih Sayang ini dapat membawa berkah tambahan. "Dia berharap agar pada Hari Kasih Sayang ini penjualan dapat meningkat. "


Nara Sumber.             Dira Dan Agung ( Pasangan Remaja )

                                      Doni Dan Dila ( Pasangan Suami Istri )

                                      Silvi ( Penjual Bunga di Wisata Telaga Sarangan )


Penulis Berita.           Raden Dede Sudrajat 


Referensi.                   Regional.kompas.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon