Kode iklan di atas
Kesedihan Citarum, Ketika Sungai Berubah Menjadi Tanah Sampah dari Kota Bandung
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Pemdangan Sungai Citarum Lama di Kampung Cicukang, Desa Mekar Rahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yangberubah jadi daratan sampah, Rabu (11/2/2026). |
Blogger.com ------ Di Kampung Cicukang, Desa Mekar Rahayu, Kabupaten Bandung, air tidak lagi terlihat sebagai suatu permukaan. Alih-alih mencerminkan warna biru langit atau keindahan senja, kawasan air seluas 300 meter dengan lebar 30 meter di Sungai Citarum Lama telah berubah bentuk menjadi permadani yang kotor dan padat.
Di lokasi tersebut, limbah kain, plastik, serta sisa-sisa barang rumah tangga menumpuk, membentuk area yang dapat menghancurkan harapan penduduk di sekitarnya.
Respon masyarakat
Kartiwa (62), yang dikenal dengan panggilan Pak Uto, berdiri kaku di tepi sungai yang kini tampak seperti tempat pembuangan sampah. Bagi dirinya, pemandangan ini merupakan siklus penderitaan yang selalu terulang kembali
Delapan bulan setelah para relawan bekerja keras untuk menghidupkan kembali sungai ini pada tahun 2025, saat ini Citarum Lama kembali berada dalam kondisi kritis.
Relawan baru saja selesai bekerja, namun sampah-sampah ini tampak seperti sedang menunggu untuk kembali menumpuk. "Seolah tidak ada akhirnya," kata Uto dengan nada berat, sambil menatap kosong tumpukan sampah yang ia perkirakan memiliki kedalaman lebih dari satu meter.
Pembuangan sampah ini bukan hanya akibat dari kurangnya keteraturan di kalangan masyarakat setempat. Bapak Uto memberikan kesaksian bahwa aliran limbah ini adalah "pengiriman" dari pusat kota.
Dari arah Caringin dan pusat Kota Bandung, limbah-limbah tersebut mengalir tanpa henti, kemudian terjebak di area tanaman kangkung dan jaring-jaring yang sudah tidak sanggup menahan bobotnya. Ini adalah pengiriman dari kota. "Segala sesuatu berasal dari tempat lain dan berakhir di sini," katanya.
Ironisnya, baru-baru ini sebuah mobil terjebak di anak sungai, yang mengakibatkan sampah harus diangkat, serta membuat jaring pengaman terbuka dan membiarkan tumpukan sampah kembali memasuki area Cicukang.
Bagi masyarakat, tumpukan ini bukan hanya pemandangan yang tidak sedap, tetapi juga berpotensi membahayakan jiwa. Jaringnya disebabkan oleh mobil tersebut yang diangkat kemarin, sehingga sampahnya kembali terhadang di sini. "Di sini terdapat kangkung, sebagian disertai dengan jaring dan kangkung," tuturnya.
Pak Uto sangat mengingat dengan jelas bagaimana air pernah meluap hingga mencapai ketinggian dua meter, yang mengakibatkan tenggelamnya rumah-rumah penduduk, termasuk rumahnya sendiri.
Saat ini, dengan sungai yang sepenuhnya tersumbat, hujan tidak lagi dianggap sebagai berkah, melainkan sebagai tanda peringatan akan ancaman yang lebih besar, "Hingga ke bagian atas sana adalah rumah saya. " "Saya juga mengalami kebanjiran di tempat saya," ungkap Uto.
Antara Ketidaknyamanan dan Gatal
Setiap tiupan angin membawa bau tidak sedap yang menyengat, yang menurut Uto kini mulai merusak kesehatan pernapasan masyarakat.
Tidak ada pilihan lain, untuk mengurangi tumpukan yang ada, Uto seringkali harus membakar limbah kain di tepi sungai, sebuah usaha kecil yang ia sebut durukan, meskipun ia menyadari bahwa itu bukanlah solusi yang permanen.
Kain-kain tersebut akan saya bakar di sini agar tidak menimbulkan bau yang terlalu kuat. "Air tersebut telah menjadi tidak dapat disentuh, karena ketika mengenainya pada kulit, langsung menimbulkan rasa gatal," keluhnya.
Para pencari rongsokan kini enggan untuk turun ke sungai ketika kondisi air sedang pasang, karena mereka khawatir akan risiko penyakit yang mengintai di balik air keruh yang telah terkontaminasi.
Harapan masyarakat pada dasarnya cukup sederhana: sebuah komitmen lama dari pemerintah dan pihak berwenang untuk memperbaiki dan mengatur aliran sungai agar arus air dapat berjalan dengan baik.
Namun, sampai awal tahun 2026 ini, janji tersebut belum terealisasi. Aliran sungai tetap luas, tenang, namun berbahaya akibat endapan yang semakin menumpuk.
Menunggu Kedatangan Tangan Dingin
Menyaksikan tumpukan sampah yang ada, Uto memperkirakan bahwa diperlukan lebih dari 30 truk besar hanya untuk mengangkut lapisan permukaannya saja.
Citarum Lama di Cicukang kini menjadi bukti betapa cepatnya manusia melupakan pentingnya menjaga alam setelah sebuah kegiatan seremonial selesai.
Di bawah sinar matahari yang menyengat, Pak Uto tetap mengawasi, dan sesekali memberikan peringatan kepada anak-anak kecil yang iseng melemparkan batu ke tumpukan sampah.
Menunggu Tangan yang Dingin
Dengan melihat jumlah sampah yang ada, Uto memperkirakan bahwa diperlukan lebih dari 30 truk tronton hanya untuk mengangkut lapisan atasnya.
Citarum Lama di Cicukang kini menjadi bukti bisu betapa cepatnya manusia melupakan pentingnya menjaga alam setelah selesainya sebuah kegiatan seremonial.
Di bawah sinar matahari yang menyengat, Pak Uto tetap berjaga, kadang-kadang menegur anak-anak yang nakal melempar batu ke tempat sampah.
Menurutnya, sungai ini bukanlah tempat pembuangan besar, meskipun dunia luar memperlakukannya seperti itu. Ia masih menunggu hari ketika Citarum Lama kembali mengalirkan air, bukan hanya menyimpan sisa-sisa peradaban yang dibuang oleh kota.
Nara Sumber Kartiwa dan Uto ( Warga Sekitar )
Penulis Berita Raden Dede Sudrajat
Referensi Regionsl.kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar