Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Kisah Dua Ibu yang Terkena Dampak Banjir di Jember, Tempat Tinggal Mereka Berada di Tepian Sungai, Mengharapkan Relokasi.

 

Iluk Prawati (38) sembari menggendong putra bungsunya menunjukkan Sungai Bedadung yang jaraknya hanya 10 meter dari rumahnya.

Blogger.com -------- Hujan bukan hanya sekadar suara yang menimpa atap bagi penduduk Perumahan Villa Indah Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Di tepi Sungai Bedadung, hujan yang turun dan tingginya air menjadi tanda kekhawatiran.

Khususnya untuk keluarga-keluarga yang rumahnya terletak di tepi aliran sungai. Bagi Iluk Prawati dan Elvira Eka Yuda Pratiwi, banjir bukan hanya sebuah kejadian alam, tetapi juga pengalaman yang terjadi berulang kali dan meninggalkan bekas trauma bagi mereka serta anak-anak.

Banjir yang sangat besar pada 15 Desember 2025 menggenangi rumah-rumah sampai ketinggian 2 meter di beberapa blok perumahan, diikuti oleh luapan berikutnya pada 12 Februari 2026.

Tembok penahan di sejumlah blok mengalami kerusakan akibat terjangan arus, menyebabkan banjir meluas dan warga berlari untuk menyelamatkan diri. 

Dalam kondisi tersebut, dua ibu rumah tangga berusaha menjaga keselamatan keluarga mereka, sambil juga berjuang melawan kelelahan yang tidak hanya fisik, tetapi juga emosional.

Kisah Iluk Prawati, luka emosional yang terus berlanjut.

Iluk Prawati (38) masih ingat dengan jelas sore ketika air setinggi hampir 2 meter menggenangi rumahnya pada 15 Desember 2025. Rumah yang terletak di Blok E dan telah dihuni sejak Februari 2019 bersama suami dan anak-anaknya itu perlahan-lahan berubah menjadi genangan lumpur.

Dia telah mengalami banjir pada tahun 2019 dan 2021, namun tidak seburuk yang terjadi pada akhir tahun 2025. Pakaian keluarga, seragam sekolah anak-anak, sepatu, serta peralatan rumah tangga terbenam dalam lumpur yang kental.

Ia memutuskan untuk menyingkirkan semua pakaian karena tidak mengetahui cara membersihkannya. "Saya telah membuang semua pakaian karena tidak tahu cara untuk mencucinya," ujarnya dengan lembut kepada Kompas. com, Minggu (22/2/2026).

Dengan baik hati, ia berhasil menyelamatkan mesin jahit dan kain-kain jahitannya karena itu adalah sumber pendapatannya. Namun, mesin obras mengalami kerusakan dan perlu diperbaiki, sementara meja-meja kerjanya terpaksa harus diganti, dan pakaian-pakaian pelanggan hilang terbawa arus.

"Baju pesanan yang dimiliki oleh pelanggan hilang, saya hanya dapat meminta maaf kepada mereka," kata Iluk. Beberapa alat kecil seperti benang dan jarum juga terendam, dan tidak semuanya dapat digunakan kembali.

Keluarga belum sepenuhnya pulih secara psikologis dan ekonomi, ketika banjir kembali melanda pada 12 Februari 2026. "Trauma akibat banjir yang terjadi kemarin belum sirna, kini ditambah lagi," ujarnya sambil menghela napas panjang.

Sejak siang hari, hujan mengguyur dengan deras.

Sekitar pukul 19. 30 WIB, ia telah siap siaga setelah menerima informasi dari warga lainnya bahwa air mulai meningkat. Ia telah menyiapkan ijazah dan dokumen penting sebelumnya. Dekat pukul 20. 00 WIB, air mulai mengalir dengan cepat.

Ia membawa anak bungsunya yang berusia 8 bulan di pelukan, memegang tangan anaknya yang berumur 4 tahun, sementara anak pertamanya berlari lebih cepat menuju tempat yang lebih tinggi.

Hujan masih turun deras, payung dibuka dengan seadanya, tas dan barang berharga dipegang sebasiknya, “Yang terpenting adalah selamat terlebih dahulu,” ujar ibu dari tiga anak tersebut.

Air dengan ketinggian sekitar 60 sampai 70 sentimeter merendam rumahnya sampai tengah malam. Sekitar pukul 24. 00 WIB, air mulai pasang, dan masyarakat secara bersama-sama membersihkan sisa-sisa lumpur.

Namun, kelelahan Iluk tidak hanya disebabkan oleh aktivitas mengepel lantai. Sejak terjadinya banjir pada bulan Desember, ia menyatakan bahwa pemulihannya belum sepenuhnya tercapai, “Rasa lelah ini belum hilang, ditambah lagi dengan bencana banjir,” tuturnya.

Setiap kali hujan lebat mengguyur, ia merasa gelisah. Ia sering keluar rumah untuk memeriksa aliran sungai. Apabila hujan turun di malam hari, ia hampir tidak bisa tidur karena khawatir air akan datang secara tiba-tiba ketika semua orang tertidur. 

Anak pertamanya bahkan menunjukkan dampak trauma yang lebih serius. Setiap kali ia melihat air sungai yang meluap, anak tertuanya menangis dan meminta untuk berpindah tempat tinggal.

Iluk mengakui pernah memikirkan untuk meninggalkan rumah tersebut. “Perasaan tersebut seperti ingin meninggalkan rumah, tetapi inilah satu-satunya tempat yang saya miliki,” ungkapnya. Pembayaran cicilan rumah telah berlangsung selama 7 tahun dan tetap harus dilanjutkan.

Tiga belas tahun masih merupakan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pinjaman di tengah risiko bencana yang ada. Kekhawatiran terus membayangi Iluk dan keluarganya. Ia memiliki harapan terhadap kebijakan pemindahan yang akan diterapkan oleh pengembang perumahan Villa Indah Tegalbesar. Bagi dia, rumah adalah lokasi yang akan ditempatinya hingga usia lanjut.

Oleh karena itu, perasaan aman dan nyaman adalah hal yang paling penting. Iluk ingin pindah ke tempat yang lebih aman agar dapat membesarkan anak-anak tanpa kekhawatiran tentang banjir. Ia berharap pemerintah daerah dapat membantu mewujudkan harapannya yang juga diinginkan oleh banyak warga perumahan lainnya.

Elvira menangguhkan usahanya karena mengalami trauma akibat banjir kembali.

Tidak jauh dari kediaman Iluk, Elvira Eka Yuda Pratiwi (29) menetap bersama suaminya dan kedua anaknya di Blok F. Sungai Bedadung yang berada di belakang rumahnya terletak sejauh 10 meter. Bagi Vira, rasa trauma muncul kembali bahkan sebelum air mengalir deras.

Apabila hujan mulai turun sejak pagi dan langit terlihat mendung tanpa adanya sinar matahari, ia segera merasa cemas. “Apabila hujan sejak pagi dan cuaca tetap mendung, saya selalu memerhatikan sungai,” ungkapnya kepada Kompas. com.

Ia sering keluar-masuk rumah untuk memeriksa keadaan air yang dapat dilihat dari dinding belakang rumah. Ketika berada di luar, pikirannya melayang, membayangkan kondisi di belakang rumah yang langsung berbatasan dengan sungai.

Trauma tersebut juga dialami oleh anak-anaknya. Ketika hujan lebat dan angin kencang melanda, mereka terus-menerus menanyakan apakah banjir akan terjadi lagi. Pada bencana banjir yang terjadi pada 15 Desember 2025, sebagian besar perlengkapan dapur telah hilang atau mengalami kerusakan.

Kompor, piring, blender, dan peralatan lainnya terbawa arus. Banyak barang yang tersisa tidak dapat digunakan lagi, dan banyak pakaian yang tidak bisa diselamatkan.

Kerugian tersebut mengakibatkan dia menunda usaha menjual camilan yang sebelumnya merupakan sumber pendapatannya. Perlengkapan dagangnya terbawa arus banjir. “Ketakutan untuk mulai berjualan lagi adalah jika terjadi kerugian besar, modal yang telah dikeluarkan bisa hilang kembali,” ujarnya.

Benar, banjir kembali meluap pada tanggal 12 Februari 2026, walaupun tidak separah yang sebelumnya. Ia mengakui, sejak awal ia memilih rumah tersebut karena cicilannya lebih ringan jika dibandingkan dengan perumahan baru lainnya.

Risiko yang dihadapi saat tinggal di dekat sungai semakin dirasakan dengan berat. Sebagai langkah pencegahan, ia membangun rak-rak tinggi untuk melindungi barang-barang jika air meningkat.

Vira mengharapkan agar para pengembang memperkuat plengsengan demi keamanan rumah-rumah yang terletak di tepi sungai. Selain itu, ia juga mengharapkan adanya keringanan dalam pembayaran angsuran bagi warga yang terdampak tanpa dikenakan bunga tambahan. Sampai saat ini, belum ada kejelasan mengenai laporan warga kepada pihak yang berwenang.

Di tengah hujan yang masih sering turun di Jember, Iluk dan Vira menjalani setiap harinya dengan penuh kewaspadaan yang tidak pernah hilang. Di rumah yang mereka bayar secara bertahap, rasa aman merupakan hal yang paling berharga dan sangat mereka inginkan kembali.

Sebenarnya, tuntutan dari warga Perumahan Villa Indah Tegalbesar telah disampaikan melalui DPRD Jember. Namun, hingga saat ini belum ada informasi positif mengenai hasilnya.

Sejumlah permintaan yang mereka sampaikan meliputi perbaikan pada plengsengan dan dinding pembatas yang memisahkan antara Sungai Bedadung dan kawasan permukiman.

Pengembang terdorong untuk meningkatkan sistem drainase dan mengembalikan aliran sungai ke kondisi semula. Terdapat program relaksasi dan restrukturisasi kredit untuk warga perumahan yang mengalami dampak, relokasi, serta dukungan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).


Nara Sumber                     Elvira Eka Yuda Pratiwi ( Warga Sekitar )

                                          Iluk Purwati ( Warga Sekitar ).


Penulis Berita.              Raden Dede Sudrajat 


Referensi.                     Surabaya.kompas.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon