Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Kopi Istimewa dari Banyuwangi, Kekayaan Berharga di Kaki Gunung Raung

 

Kopi langka jenis Arabika Yellow Caturra yang tumbuh di lereng Gunung Raung

Blogger.com ----- Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur, tidak hanya terkenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Daerah ini juga menyimpan kekayaan kopi langka yang tumbuh dengan baik dan mulai mendapatkan perhatian dari para penggemar kopi.

Di lereng Gunung Raung yang terletak di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, terdapat potensi besar yang disebut "emas hijau" Banyuwangi.

Di rute pendakian gunung tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan bahwa terdapat tanaman kopi langka dari jenis Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon, yang memiliki nilai jual yang tinggi di pasar kopi premium karena termasuk varietas yang langka di Indonesia.

Ini merupakan salah satu jenis kopi berkualitas tinggi yang berasal dari Banyuwangi. Hanya sedikit wilayah di Indonesia yang mampu mengembangkan Yellow Caturra dan Yellow Bourbon dengan kualitas yang baik.

"Namun, Banyuwangi memiliki kelebihan tersebut," ujar Ipuk Fiestiandani, pada hari Senin (2/2/2026).

Kopi berkualitas tinggi ini ditanam di area seluas 7 hektare, dengan rata-rata hasil mencapai 1 ton untuk setiap hektarenya. Dari area tersebut, total hasil produksi biji kopi (green bean) mencapai 7 ton setiap tahunnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, mengungkapkan bahwa varietas biji kopi tersebut kini sedang dikembangkan dengan serius di Banyuwangi.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi geografis di lereng Gunung Raung sangat mendukung pertumbuhan kopi Arabika yang berkualitas untuk ekspor.

Selain itu, kesuburan tanah vulkanik, ketinggian daerah, dan iklim yang sejuk merupakan faktor-faktor utama yang membentuk karakter rasa kopi.

Topografi di Kalibaru sangat cocok. "Lahan ini sangat baik, iklimnya mendukung, sehingga dapat menghasilkan kopi dengan rasa yang unik dan memiliki peluang besar di pasar global," kata Danang.

Berdasarkan asalnya, varietas Yellow Caturra diyakini berasal dari Kolombia, Kosta Rika, dan Nikaragua, sebelum kemudian dikembangkan di Brasil.

Dengan cara yang sama, Kopi Yellow Bourbon juga berasal dari Brasil. Di Indonesia, jenis tanaman ini diperkenalkan selama masa penjajahan Belanda dan dapat ditemukan di beberapa daerah dengan ketinggian tertentu, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur (Flores, Bajawa).

Buah dari ceri kopi ini dikenal memiliki warna kuning ketika sudah matang dan memberikan cita rasa manis serta asam yang seimbang.

Danang menjelaskan bahwa pengembangan kopi langka ini juga merupakan bagian dari strategi untuk memperluas jenis produk pertanian di Banyuwangi, dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan para petani. Kami tidak hanya fokus pada jumlah, tetapi juga pada mutu.

"Dengan kopi berkualitas tinggi seperti ini, harga jualnya menjadi lebih baik dan memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, seperti yang disampaikan oleh Danang, terus berupaya memperkuat budidaya, pascapanen, dan pemasaran kopi supaya dapat bersaing di pasar internasional.

Potensi ini akan kami tingkatkan secara berkelanjutan melalui dukungan dan penguatan proses hilirisasi. "Di harapkan, kopi Arabika Banyuwangi yang berasal dari lereng Gunung Raung dapat dikenal lebih luas di seluruh dunia," tutupnya.



Nara Sumber                   Ipuk Fiestiandani  ( Bupati Banyuwangi )

                                         Danang Hartanto ( Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) 

                                         Kabupaten Banyuwangi


Penuliis Berita                Raden Dede Sudrajat


Referensi                        Surabaya.kompas.com




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon