Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Longsor di Gunungkidul, Penduduk disarankan untuk mengungsi sementara.

 

Warga dan relawan membersihkan rumah yang terdampak longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Ngawen, Gunungkidul, Rabu (18/2/2026)

Blogger.com ------- Warga diharapkan untuk mengungsi setelah terjadinya banjir yang disertai longsor yang melanda Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (17/2/2026) sore hari.

Lurah Tancep, Yudianto, menyatakan bahwa kejadian tersebut dimulai dari hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur daerah itu sejak sekitar pukul 15. 00 WIB.

“Hujan yang sangat lebat diikuti oleh air yang mengalir deras dan lumpur yang masuk ke dalam rumah-rumah warga,” kata Yudianto ketika bertemu di lokasi. Ia memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka akibat peristiwa tersebut.

Sebanyak 12 rumah dan 1 masjid terpengaruh.

Menurut data awal yang telah dikumpulkan, terdapat 12 rumah dan 1 masjid yang mengalami kerusakan karena banjir dan longsor. Dari total tersebut, lima rumah dilaporkan mengalami kerusakan yang serius.

Pemerintah desa telah menyediakan tempat penampungan untuk pengungsi. Namun, mayoritas penduduk memutuskan untuk mengungsi ke rumah sanak keluarga yang dianggap lebih aman. “Untuk saat ini, kami menyarankan agar melakukan evakuasi,” kata Yudianto.

Yudianto mengakui bahwa daerahnya memiliki risiko longsor yang cukup besar karena terletak di kawasan berbukit. Pada tahun 2011, daerah tersebut mengalami bencana longsor yang menyebabkan adanya korban jiwa.

Menurutnya, Kalurahan Tancep merupakan daerah yang memperoleh perhatian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akibat tingkat risiko longsor yang sangat tinggi.

Warga Terkejut, Lumpur Mengalir ke Dalam Rumah

Seorang warga Jono bernama Pujiyanto menyatakan bahwa ia merasa terkejut ketika air yang mengandung lumpur tiba-tiba memasuki rumahnya yang terletak di bawah jalan desa. "Tiba-tiba air dan lumpur masuk ke dalam rumah," ujarnya.

Pada hari Rabu (18/2/2026), ia bersama masyarakat dan sukarelawan masih berkolaborasi membersihkan sisa-sisa material tanah dan lumpur yang memenuhi rumah.




Nara Sumber         Yudianto ( Lurah Lancep )

                            Jono Dan Pujiyanto ( Seorang Warga Sekitar )


Penulis Berita        Raden Dede Sudrajat


Referensi              Yogyakarta.Kompas.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon