Kode iklan di atas
Nafas Hidup Sunari Bersandar pada Kopi, Menunggu Pemerintah Hadir dan Merangkul Petani
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Eli Ermawati, istri Sunari petani kopi robusta Desa Mulyorejo Kecamatan Silo Kabupaten Jember memetik kopi di kebunnya. |
Blogger.com -------- Di balik aroma kopi robusta dari Jember, terdapat petani yang bekerja dengan penuh kesunyian dan berharap perhatian dari pemerintah daerah. Dari lereng tenang desa di timur Jember, robusta dirawat sepenuh jiwa, namun harganya terjebak di tangan tengkulak.
Pagi itu belum sepenuhnya cerah ketika Sunari sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Udara dingin merasuk dari celah-celah pohon kopi yang mengelilingi rumah.
Ia mengenakan sepatu boots favoritnya, mengambil ember kecil, lalu mulai mendaki tanah berbukit yang dilalui setiap hari. Tidak ada suara dari mesin. Tidak ada bunyi klakson. Yang terdengar hanya desiran daun kopi, langkah kakinya di tanah basah, dan kadang-kadang suara burung di kejauhan. Di kebun itu, Sunari dan keluarganya menghabiskan hampir seluruh hidup mereka.
Hari itu, akhir Agustus 2025, merupakan panen terakhir untuk musim ini di Padukuhan Dampikrejo, Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, sebuah wilayah kecil di perbukitan timur Jember yang sekarang hanya dihuni oleh 29 keluarga, tanpa akses listrik dari PLN, jalan aspal, dan jauh dari pusat kota.
Di lereng ini, Sunari memetik kopi tanpa memilih berdasarkan warna. Merah, kuning, hijau. Semua dimasukkan ke dalam ember yang sama. Bukan karena ia tidak tahu mana yang terbaik. Namun, karena kenyataan lapang tak memberinya pilihan. Sunari (43) lahir dari perkebunan, dan dibesarkan bersama kopi.
Ayahnya, Hasan, yang dikenal sebagai Pak Sabar, adalah mantan waker PTPN XII Kebun Silosanen yang memulai keluarga mereka sebagai petani kopi. Ibunya, Suyani, juga seorang petani kopi. Sejak kecil, Sunari akrab dengan tanah dan rerumputan. "Waktu kecil saya sering bermain di kebun. Mengumpulkan rumput, pulang dengan lelah, tapi bahagia," ujarnya.
Kebun adalah tempat ia bermain semasa kecil. Di sinilah ia belajar bekerja tanpa diajari, belajar bersabar tanpa bimbingan. Ia tumbuh seiring dengan batang kopi, menyaksikan bagaimana kopi menjadi sandaran hidup bagi keluarganya.
Sekarang, ia mengelola 4 hektar kebun kopi robusta bersama ibu dan istrinya. Sementara itu, ayahnya sudah lama tidak ada sejak penglihatannya menghilang. Rumahnya berdiri di tengah kebun, jauh dari keramaian. Sunyi dan terpencil, namun bagi Sunari merasa aman. “Kadang merasa bosan, tetapi di sini sudah terasa damai. Kopi adalah kehidupan kami," ungkapnya.
Setelah panen, pekerjaan justru dimulai. Bagi Sunari, panen bukan hanya sekadar memetik buah. Itu adalah penutup dari satu siklus kehidupan, sekaligus awal dari kesabaran yang panjang berikutnya. Yaitu merawat kebun hingga panen yang akan datang. Panen hanyalah puncak kecil dari pekerjaan yang panjang. Begitu panen selesai, Sunari tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat.
Setiap pagi, ia kembali mengeksplor kebun. Menghilangkan gulma yang tumbuh cepat setelah hujan, memangkas pucuk kopi yang tidak produktif (wiwil) agar energi tanaman tidak terbuang percuma. Di batang tertentu, ia melakukan pemangkasan, memotong bagian yang sudah tidak sehat. Beberapa tanaman yang terlalu tua ia sambung kembali. Proses penyambungan dilakukan perlahan dengan alat sederhana.
Semua dilakukan berdasarkan pengalaman dan observasi. Ia berbagi tugas dengan istrinya, Eli Ermawati, dan ibunya. “Setelah panen, kopi itu harus dirawat lagi. Jika ditinggalkan, semua akan hilang,” ujarnya.
Tidak ada jadwal penyuluhan. Tidak ada petugas yang datang memberikan bimbingan. Semua ia pelajari sendiri, dari satu kebun ke kebun lainnya, dari kegagalan satu ke kegagalan lain. Sebagian besar tanaman di kebunnya ditanam sejak tahun 1997.
Peremajaan dilakukan secara bertahap, sebisa mungkin, mengikuti sumber daya manusia dan anggaran yang tersedia. Masalah utama yang sering dihadapi tetap sama, yaitu sulitnya mendapatkan pupuk. Meskipun tidak membeli yang bersubsidi, tetap saja hal itu sulit.
"Kebutuhan urea saya bisa mencapai 2 ton, tetapi yang berhasil saya dapatkan hanya 5 hingga 7 kuintal di toko Desa Sempolan dengan harga Rp 730. 000 per kuintal," ungkap Sunari. Ia pun memilih untuk menerima keadaan. Pemupukan dilaksanakan dengan cara seadanya, menggunakan dosis yang minim. Akibatnya, hasil panennya jadi rendah.
"Umumnya, dari kebun seluas 4 hektar itu bisa menghasilkan 2,5 ton green beans," jelasnya pasrah. Saat panen, harga ditentukan oleh tengkulak. Pagi hari, Sunari mulai aktivitasnya sebelum matahari terbit. Ia menggantungkan ember di depan tubuh dan menyematkan karung kecil di pinggang.
Saat panen, ia mengawali harinya sejak fajar. Ember tergantung di perut dan karung kecil melekat di pinggang, Ia menapaki lereng setinggi 610 meter di atas permukaan laut dengan hati-hati. Tak ada buah yang merah. "Jika menunggu yang merah, nanti orang lain sudah mengambilnya," tuturnya.
Pengasak akan mengambil biji yang jatuh atau dianggap tidak layak. Namun, alasan yang lebih mendasar adalah harga. Di tengkulak, warna tidak menjadi pertimbangan. Merah, kuning, hijau, semua dianggap sama. Green bean (kopi tanpa kulit) dibeli dengan harga sekitar Rp 63. 000 per kilogram.
Jika dijual dalam bentuk glondongan, harganya bisa turun menjadi Rp 10. 000 per kilogram. Tidak ada insentif untuk memisahkan biji. Tiada penghargaan bagi kualitas, Jadi, seperti banyak petani di Mulyorejo, Sunari memanen menurut keadaan, "Kalau dipisah, harganya tetap sama," ujarnya datar. Untungnya, Sunari sudah memiliki mesin pengupas untuk memisahkan kulit dari biji kopi. Dengan demikian, setiap kali menjual ke tengkulak, ia menawarkan dalam bentuk green bean.
Bekerja dalam Keheningan
Biji kopi dikumpulkan dalam karung besar, dijahit secara manual dengan tali rafia. Dari puncak bukit, karung-karung itu digelindingkan ke bawah. Di sore hari, karung tersebut diangkut dengan motor ke gudang rumah. Sebagian biji dijemur, kemudian digiling dengan mesin sederhana milik Sunari.
Jadilah green bean yang disimpan, menunggu saat keluarga memerlukan uang. Hampir semua proses dikerjakan sendiri. Mencari buruh sangat sulit, "Di sini hampir setiap orang memiliki kebun kopi," katanya. Pada musim di luar kopi, Sunari menanam pisang, alpukat, durian, jahe, cabai, labu siam. Ia juga memelihara ayam, kambing, dan sapi. Semuanya demi menjaga kelangsungan hidup sampai tiba musim berikutnya.
Kopi yang Menghidupi, Tapi Tak Mengangkat
Dari tanaman kopi, Sunari merintis banyak hal. Pada tahun 2005, hasil panen yang melimpah memungkinkan keluarganya mendirikan masjid kecil di desa tersebut, dan ayahnya telah menjalani peran sebagai muazin dan imam hingga saat ini, meskipun ia telah kehilangan penglihatannya.
Kopi telah menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya, mendukung ibadah, dan mempertahankan komunitas kecil di daerah yang tenang. Namun, kopi belum pernah benar-benar memperbaiki kondisi hidup mereka. Kualitas robusta yang dihasilkan tidak mengalami perubahan signifikan. Dirawat, dipetik, dan dijual tanpa lebih dari itu.
Tidak ada perhatian khusus dalam perawatan, pemanenan, dan proses pascapanen yang berkaitan dengan kualitas. Kondisi ini bukan tanpa alasan. Sunari dan para petani di Mulyorejo mengandalkan pembelajaran mandiri. Jika dikelola dengan tepat, kopi akan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi. Harganya pun dapat meningkat.
“Kami tidak tahu caranya, dan tidak paham bagaimana memasarkan produk kami," tuturnya pelan. Selain masalah teknis dalam perawatan dan pengolahan, Sunari juga mengakui bahwa mereka tidak mengerti kemana harus memasukkan hasil robusta mereka selain pada tengkulak yang sudah menetapkan harga. Petani tidak memiliki kuasa atas penetapan harga tersebut.
Menunggu Perhatian Pemerintah
Sunari menjabat sebagai Ketua RT 11 di desa itu. Ia telah menjalankan tugas ini selama 10 tahun. Ia sangat mengenal kondisi warganya, termasuk jalan makadam yang berbatu, kondisi tanah yang licin, tidak adanya listrik PLN, minim akses komunikasi, serta jauh dari fasilitas umum seperti sekolah dan layanan kesehatan.
“Kami sering mendengar bahwa Jember adalah penghasil kopi robusta. Namun, petaninya merasa tidak pernah mendapatkan perhatian," ungkapnya sambil tersenyum. Ia menyimpan harapan yang lama. Ia berharap pemerintah daerah tidak hanya hadir dalam bentuk data dan laporan, tetapi juga turun ke lapangan. Memberikan penyuluhan mengenai perawatan, panen, dan pemrosesan pascapanen. Membuka akses yang adil terhadap pupuk. Mengajarkan petani untuk mengolah kopi mereka sendiri, memiliki merek, dan menjualnya dengan harga yang layak.
“Kami tidak meminta banyak, hanya ingin dibimbing dan diarahkan agar menjadi petani kopi yang lebih baik," harapnya. Sunari bermimpi suatu saat kopi Mulyorejo tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah. Ia ingin memiliki merek sendiri, ingin melihat kopinya disajikan dengan kebanggaan, bahkan mencapai pasar ekspor. “Kopi ini bagi saya seperti anak saya sendiri. Kami merawatnya dengan penuh perhatian,” katanya.
Di daerah tenang Mulyorejo, Sunari terus melangkah dari satu batang kopi ke batang lainnya. Sebab, di balik aroma robusta Jember, terdapat petani yang bekerja keras dalam diam, menanti saat kebunnya tidak hanya menghasilkan angka, tetapi juga keadilan. Sejauh ini, Jember memperkenalkan dirinya sebagai Kota Penghasil Kopi Robusta.
Tagline ini masih terasa jauh dari harapan. Faktanya, para petani kopi masih menyimpan keresahan. Kualitas kopi yang dihasilkan oleh rakyat masih banyak yang terabaikan. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, luas perkebunan kopi rakyat di Jember pada tahun 2024 mencapai 3. 872 hektar dengan total produksi sebesar 3,7 ton.
Nara Sumber Sunari ( Sebagai Ketua RT 11 )
Penulis Berita. Raden Dede Sudrajat
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar