Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Nganjuk Berisiko Mengalami Cuaca Ekstrem Hingga 10 Februari 2026, FPRB Minta Masyarakat Lebih Waspada

 

Aparat BPBD Nganjuk saat mengevakuasi pohon tumbang Desa Pacekulon, Kecamatan Pace,


Blogger.com ---- Warga Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan cuaca ekstrem yang mungkin terjadi di awal Februari 2026.

Cuaca ekstrem ini kemungkinan disebabkan oleh aktifnya monsun Asia, yang dapat memicu hujan deras disertai dengan angin kencang dan petir.

Chaisar Albar, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Nganjuk, menginformasikan bahwa periode berisiko cuaca ekstrem ini diperkirakan berlangsung antara 1-10 Februari 2026.

“FPRB mengimbau masyarakat Nganjuk untuk bersikap lebih waspada terhadap cuaca buruk selama periode 1-10 Februari 2026,” ucap Chaisar kepada wartawan di Nganjuk, Selasa (3/2/2026).

Chaisar menjelaskan bahwa aktifnya monsun Asia bisa mengakibatkan berbagai bencana terkait hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan pohon roboh.

Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk melakukan langkah-langkah mitigasi sederhana. Ini termasuk membersihkan lingkungan sekitar, menghindari lokasi yang berisiko, dan menyiapkan tas siaga bencana.

Peringatan serupa juga disampaikan oleh Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan. Dalam rilis pers, BMKG Juanda mengungkapkan adanya potensi cuaca ekstrem di beberapa daerah di Jawa Timur, termasuk Nganjuk, pada periode 1-10 Februari 2026.

BMKG mencatat bahwa saat ini, seluruh wilayah Jawa Timur sedang mengalami musim hujan, bahkan beberapa daerah masih dalam puncak musim hujan.

Dalam sepuluh hari ke depan, potensi cuaca ekstrem diprediksi akan meningkat dan dapat berdampak cukup besar terhadap aktivitas masyarakat.

“Diperkirakan dalam sepuluh hari ke depan akan ada peningkatan cuaca ekstrem yang berpengaruh signifikan terhadap berbagai aktivitas masyarakat,” ungkap Taufiq, Sabtu (31/1/2026).

Taufiq menambahkan bahwa cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer, termasuk aktifnya monsun Asia, gangguan gelombang atmosfer Low Frequency, Gelombang Rossby, Gelombang Kelvin, serta kondisi suhu permukaan laut yang masih cukup signifikan.

“BMKG Juanda mengingatkan masyarakat dan instansi terkait untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, serta kemungkinan cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga deras yang disertai petir dan angin kencang selama sepuluh hari ke depan,” jelas Taufiq.




Nara Sumber                    Taufiq Hermawan

                   Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo

                                          Chaisar Albar

                   Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB)

                                        Kabupaten Nganjuk


Penulis Berita                   Raden Dede Sudrajat


Referasi                            Surabaya.kompos.com 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon