Kode iklan di atas

Kronologi Penemuan Macan Tutul Terjerat di Permukiman Warga Gunung Mas Puncak Bogor, Berasal dari Gunung Pangrango.

Gambar
  Petugas saat mengevakuasi macan tutul yang masuk ke permukiman warga di Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jumat, 3 April 2026. Blogger.com  - Sebuah macan tutul yang ditemukan di lingkungan Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Cisarua, diketahui berasal dari hutan Gunung Pangrango. Saat ini, satwa liar tersebut sedang ditangani oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerja sama dengan tim Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor. Asisten Manajer Legal dan Umum PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2, Asep Zaenal Muttaqin menjelaskan bahwa macan tutul tersebut berasal dari pegunungan dan memasuki permukiman warga Gunung Mas sebelum terjerat. “Satwa ini datang dari kawasan Pegunungan Pangrango, memasuki kawasan Gunung Mas, lalu terjebak dalam jeratan dan kemudian diberi bius oleh pihak BKSDA dan Taman Safari,” ujarnya pada hari Jumat, 3 April 2026. Asep menambahkan bahwa keberadaan macan tutul ini telah diketahui oleh warga, terutama di Kampung Batik. Satwa tersebu...

Pakar dari Unand menjelaskan alasan mengapa sungai mengalami pengeringan setelah terjadinya bencana.

 

Kondisi Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat mengering pasca-banjir bandang.

Blogger.com ---- Ahli sekaligus pengajar di Deartemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Univeprsitas Andalas (Unand), Prof. Dian Fiantis, menguraikan faktor-faktor yang menyebabkan Sungai Batang Kuranji mengalami pengeringan atau pendangkalan yang parah setelah terjadinya banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025.

Kondisi ini adalah reaksi alami dari daerah aliran sungai (DAS) terhadap curah hujan yang sangat tinggi yang disertai dengan penurunan cadangan air tanah, ujarnya di Kota Padang, pada hari Rabu.

Berdasarkan informasi dari Global Precipitation Measurement Integrated Multi-Satellite Retrievals for GPM (GPM IMERG), jumlah curah hujan di daerah hulu Batang Kuranji antara 19 hingga 25 November 2025 tercatat melebihi 500 milimeter, diikuti oleh curah hujan sekitar 190 milimeter dalam dua hari selanjutnya.

Dalam bidang hidrologi, curah hujan yang sebesar ini mengakibatkan tanah di daerah hulu menjadi sepenuhnya jenuh. Pori-pori tanah yang biasanya menyimpan air tidak lagi berfungsi secara maksimal, sehingga air menjadi limpasan permukaan dan menyebabkan banjir bandang," ungkapnya.

Akibat hujan yang sangat deras, partikel halus dan kasar dari daerah hulu terbawa ke aliran sungai dan mengendap di bagian tengah sampai hilir. Endapan ini mengakibatkan penurunan kedalaman dasar sungai sekitar satu hingga dua meter. Namun, setelah hujan berhenti, sungai justru kekurangan pasokan air dari dalam tanah.

Dia menjelaskan bahwa masalah utama berasal dari melemahnya fungsi tanah dan batuan di bagian hulu sebagai "penyerap alami".

Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi kebun, ladang, jalan, dan permukiman, ujar dia, menyebabkan air hujan mengalir lebih cepat di permukaan tanpa tersimpan sebagai sumber air tanah.

Keadaan ini menyebabkan penurunan aliran dasar sungai. "Sebetulnya, aliran dasar memiliki peran penting dalam memastikan sungai tetap mengalir ketika hujan tidak turun," kata dia.

Pada beberapa bagian Batang Kuranji, dijelaskan bahwa dasar sungai yang terbuat dari bahan vulkanik dengan porositas tinggi menyebabkan air sungai mengalir ke dalam tanah saat level air tanah berkurang. Fenomena ini disebut sebagai losing stream, yaitu sungai yang kehilangan aliran air ke dalam akuifer.

Selain itu, informasi mengenai curah hujan antara 12 hingga 26 Januari 2026 menunjukkan bahwa hujan harian di area hulu Batang Kuranji tergolong rendah, dengan rata-rata 7,3 milimeter setiap hari. Tingkat intensitas ini diangap belum memadai untuk mengisi kembali cadangan air tanah yang telah berkurang akibat hujan ekstrem yang terjadi sebelumnya.

Keadaan Batang Kuranji saat ini adalah isyarat lingkungan dari daerah hulu. "Solusi yang berkelanjutan tidak terletak di bagian hilir sungai, tetapi pada usaha untuk memperbaiki fungsi Daerah Aliran Sungai," ujarnya.



Nara Sumber            Prof. Dian Fiantis ( Deartemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan                                                                     Fakultas Pertanian Univeprsitas Andalas (Unand)  )


Penulis Berita           Raden Dede Sudrajat


Referensi                  Antaranews.com





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon