Kode iklan di atas
Pengelolaan Sampah RDF di Bandung Memerlukan Investasi Besar, Farhan Mengundang Investor untuk Berpartisipasi.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Dua insinerator di TPS Baturengat, Kota Bandung disegel KLH. |
Blogger.com ------ Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa teknologi insinerator untuk memusnahkan sampah akan digantikan oleh teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar yang berasal dari limbah, yang dikenal sebagai refuse-derived fuel (RDF).
Farhan mengungkapkan bahwa hingga saat ini, total penanganan sampah di beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) yang memanfaatkan insinerator hanya berkisar antara 80 hingga 100 ton per hari.
Berdasarkan informasi sementara dari Pemkot Bandung, total terdapat 15 unit insinerator yang berada di berbagai lokasi, dengan rincian 11 unit dibeli dengan menggunakan APBD, sedangkan yang lainnya diperoleh dari hibah.
Farhan mengharapkan bahwa di masa mendatang, pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi RDF dapat meningkat lagi dalam kapasitas penanganannya.
"Seharusnya setiap titik mampu mengelola 80 ton (sampah)," ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Kota Bandung, pada Sabtu (7/2/2026).
Farhan menyatakan bahwa Pemerintah Kota Bandung menargetkan untuk dapat secara mandiri mengelola 30 persen dari total produksi sampah harian Kota Bandung, yang dapat mencapai lebih dari 1. 500 ton setiap harinya.
Menurut dia, jika target pengolahan sampah sebesar 80 ton menggunakan RDF per titik dapat tercapai secara mandiri, maka Pemerintah Kota Bandung hanya perlu mengurangi sisa sampah dengan cara konvensional, yaitu dengan membuangnya ke TPA Sarimukti. Saya menargetkan pengelolaan 30 persen dari total sampah.
Dengan kata lain, kita memerlukan enam titik. Enam titik dengan kapasitas masing-masing 80 ton, sehingga totalnya mencapai sekitar 480 ton dalam sehari. Sisa seberat 80 ton akan dikelola oleh RW.
Setiap RW diharuskan untuk dapat mengelola jumlah total sebanyak 80 ton setiap harinya. Oleh karena itu, jumlah keseluruhannya sekitar 560 ton. "Apabila sebanyak 560 ton sudah berhasil diurus, maka kami masih memiliki sekitar 800 hingga 900 ton yang perlu diangkut ke TPA," ujarnya.
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Bandung dalam menyelenggarakan pengolahan sampah menjadi RDF adalah ketersediaan lahan. Karena teknologi ini memerlukan area yang cukup luas untuk dapat beroperasi dengan baik.
Walaupun demikian, Farhan yakin bahwa tanah milik Pemerintah Kota Bandung yang ada saat ini dapat digunakan untuk mendukung enam lokasi pengolahan sampah menjadi RDF.
Jika lahan yang tersedia masih belum mencukupi, untuk mendukung kelancaran sistem pengolahan sampah menggunakan mesin RDF, Pemerintah Kota Bandung akan kembali mencari lahan-lahan potensial yang ada.
Kita memang perlu memperluas area (untuk pengelolaan sampah) tanpa terkecuali. Kita tidak memiliki alternatif lain. "Itu bukan pilihan, tetapi sebuah kewajiban yang harus dilakukan," ungkapnya.
Untuk mengimplementasikan teknologi pengolahan sampah menjadi RDF, dana yang diperlukan lebih tinggi dibandingkan dengan insinerator. Oleh karena itu, Farhan memberikan kesempatan kepada siapa pun yang ingin berinvestasi melalui program pengelolaan sampah. Perlu, (menyediakan kesempatan untuk berinvestasi).
"Investasi ini mirip dengan insinerator; kita juga akan menerapkan skema yang sama untuk investasi ini," ujarnya. Farhan menyatakan bahwa pengolahan sampah menjadi RDF diprioritaskan karena investor akan mendapatkan keuntungan tambahan dari penjualan bahan bakar pengganti batu bara kepada industri-industri yang memerlukannya.
Nara sumber : Muhammad Farhan ( Wali Kota Bandung )
Penulis Berita : Raden Dede Sudrajat
Referensi. : Bandung.Kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar