Kode iklan di atas
Pilu Usman, pada awal tahun ini sudah terjadi empat kali banjir yang merendam perumahan Griya Nuansa Dawuan Cirebon.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Sejumlah petugas Brimob Polda Jabar membantu mengevakuasi warga Perum Griya Nuansa Dawuan, Desa Kalibaru, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada Kamis (5/2/2026) malam hari. |
Blogger.com ----- Bencana banjir kembali menggenangi Perumahan Griya Nuansa Dawuan, Desa Kalibaru, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Kamis malam, 5 Februari 2026. Banjir ini terjadi untuk yang keempat kalinya menimpa warga dalam waktu satu bulan di awal tahun 2026.
Air dari Sungai Cipager meluap ke area perumahan dan mengalir masuk ke dalam rumah-rumah warga, sehingga merusak beberapa perabot. Menurut data yang ada, lebih dari 100 rumah terpengaruh oleh banjir dengan ketinggian air mencapai antara 70 hingga 100 sentimeter di lokasi terdalam yang dekat dengan aliran sungai.
Seorang warga, Usman, menyatakan bahwa banjir kali ini tiba-tiba terjadi meskipun di daerah perumahan tidak ada hujan yang turun dengan lebat. Kondisi ini terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi di bagian hulu, yaitu di Kabupaten Cirebon dan Kuningan.
"Banjir yang terjadi kali ini tidak disebabkan oleh hujan deras; dapat dilihat dari atap yang masih kering. Namun, di daerah hulu, seperti Cirebon dan Kuningan, hujan cukup lebat, dan sungai Cipager telah melampaui ketinggian 100 sentimeter.
Oleh karena itu, kami harus waspada, karena banjir dipastikan akan terjadi," ungkap Usman saat dijumpai Kompas. com, Kamis (5/2/2026) malam.
Pagar perumahan mengalami kerusakan dan belum ada solusi.
Keadaan banjir kali ini semakin buruk akibat jebolnya pagar penahan yang mengelilingi kawasan perumahan. Sebagai akibatnya, aliran air dari anak Sungai Cipager langsung memasuki permukiman masyarakat tanpa ada penghalang.
Usman mengungkapkan bahwa sejak bulan Januari 2026, rumahnya telah terendam banjir sebanyak empat kali. Tingkat keparahan ini dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.
Ia juga mengungkapkan penyesalan terhadap tindakan pengembang perumahan yang dianggap tidak memberikan solusi nyata sejak pembangunan perumahan ini dimulai pada tahun 2022.
Banjir yang terjadi kali ini tidak disebabkan oleh hujan deras, dapat dilihat dari atap yang masih kering. Sejak bulan Januari tahun 2026, banjir telah terjadi sebanyak empat kali. "Usaha masyarakat untuk mendapatkan penjelasan dari pengembang perumahan masih belum berhasil," keluh Usman.
Masyarakat merasa bingung karena kurangnya kejelasan mengenai tanggung jawab antara pengembang dan pemerintah daerah dalam menangani masalah yang terjadi setiap tahun ini.
151 KK Terpengaruh, Camat Akan Mengundang Pengembang
Camat Tengah Tani Tedi Tri Susilo menjelaskan bahwa banjir kali ini menggenangi dua desa sekaligus, yaitu Desa Dawuan dan Desa Kalibaru. Terdata sebanyak 151 kartu keluarga (KK) tinggal di rumah-rumah yang terkena dampak genangan air tersebut.
Pihak kecamatan, bersama dengan TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), telah melaksanakan tindakan darurat dan mengarahkan evakuasi ke tempat yang aman.
Terdapat dua desa di kawasan Kecamatan Tengah Tani, yaitu Dawuan dan Kalibaru, yang mengalami genangan air akibat banjir. "Kami telah mengambil langkah antisipasi dengan mengawasi debit aliran Sungai Cipager, sehingga warga dapat diselamatkan lebih awal dan tidak ada korban," ungkap Tedi.
Tedi menekankan, selain melakukan penanganan darurat, pihaknya akan segera mengundang pemerintah desa dan pihak pengembang perumahan untuk membahas solusi penanganan banjir secara menyeluruh.
Koordinasi ini sangat penting agar dapat diambil tindakan nyata, seperti memperbaiki sistem drainase atau tanggul, sehingga masyarakat tidak selalu menjadi korban banjir yang sering terjadi.
Nara Sumber. Usman ( Warga Sekitar )
Tedi Tri Susilo ( Camat Tengah Tani )
Penulis Berita. Raden Dede Sudrajat
Referensi. Bandung.kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar