Kode iklan di atas
Setahun setelah terjadinya fenomena tanah gerak di Pasuruan, sebanyak 4. 000 pohon telah ditanam di area lahan kritis Dusun Sempu.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Blogger.com ----- Warga Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, masih mengingat dengan jelas peristiwa tanah bergerak yang menggetarkan kawasan tempat tinggal mereka pada bulan Januari 2025 yang lalu.
Saat ini, satu tahun telah berlalu, upaya konkret untuk mitigasi mulai dilaksanakan secara luas. Ratusan individu dari berbagai kelompok, termasuk pemerintah, TNI-Polri, aktivis lingkungan, serta sektor swasta, secara bersama-sama melaksanakan aksi penanaman dan perawatan pohon di wilayah tersebut, baru-baru ini.
Sebanyak 4. 000 bibit pohon telah ditanam di lahan seluas 26 hektar yang tergolong dalam kategori daerah dengan risiko longsor dan dalam keadaan kritis.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Pasuruan, Syaifudin Ahmad, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan kelanjutan dari analisis yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.
"Dikarenakan pergerakan tanah, salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menanam pohon di area-area yang rentan agar risiko bencana dapat diminimalkan," tutur Syaifudin di Pasuruan, Rabu (11/2/2026).
Jenis pohon yang dipilih bukanlah sekadar untuk penghijauan biasa. Tanaman yang menghasilkan, seperti nangka dan alpukat, menjadi yang paling banyak ditanam di area tersebut. Strateginya tampak jelas, yaitu memperkuat struktur tanah sembari memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di masa yang akan datang.
Persatuan ini berfokus pada satu sasaran, yaitu mengembalikan fungsi lahan yang mengalami kerusakan. Diharapkan dapat meningkatkan kekuatan tanah dan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi komunitas. "Proses penanaman juga dilakukan secara berkelanjutan," tambahnya.
Pemulihan lahan di Dusun Sempu tidak dapat dilaksanakan secara mandiri oleh pemerintah. Administratur Perhutani KPH Pasuruan, Ivan Cahyo Susanto, menekankan perlunya dukungan dari berbagai sektor mengingat lokasi tersebut merupakan kawasan yang harus dilindungi.
"Gotong royong ini merupakan usaha untuk melindungi bumi agar tetap kokoh dan masyarakat terjaga dari bahaya bencana, sambil menjadi bentuk tanggung jawab sosial (CSR) bagi lembaga swasta," kata Ivan.
Kepala Desa Cowek, Sofi'i, menyatakan rasa syukurnya karena pada musim hujan tahun ini, keadaan tanah di daerahnya cukup stabil dan tidak mengalami pergerakan seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya.
Walaupun keuntungan dari pohon ini baru akan jelas dalam waktu sekitar lima tahun ke depan, ia yakin bahwa langkah ini merupakan solusi untuk jangka panjang. Semoga musim hujan saat ini dan yang akan datang berjalan dengan aman. "Sofi'i berharap bahwa tidak akan terjadi lagi bencana tanah bergerak. "
Sebagai informasi, setelah terjadinya bencana tanah gerak pada 28 Januari 2025 yang lalu, beberapa warga sempat mengungsi di SD Negeri 2 Cowek.
Kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan mengenai kemungkinan relokasi telah dibahas, tetapi sampai saat ini belum pernah terwujud.
Nara Sumber Ivan Cahyo Susanto ( Administratur Perhutani KPH Pasuruan )
Penulis Berita Raden Dede Sudrajat
Referensi Surabaya.kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar