Kode iklan di atas
Solusi Penanggulangan Banjir di Jakarta Menggunakan Penelitian Limnologi dan Iklim
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Banjir yang kembali melanda Jakarta pada awal 2026 berturut-turut selama tiga hari merendam pemukiman warga |
Blogger.com -----Banjir tetap menjadi masalah lama yang terus terjadi di Jakarta dan daerah sekitarnya. Setiap kali musim hujan datang, genangan air dan banjir besar kembali terjadi dengan ukuran serta pengaruh yang semakin meluas.
Kondisi ini menegaskan bahwa banjir bukan hanya masalah yang terjadi pada musim tertentu, tetapi merupakan isu struktural yang memerlukan solusi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Menanggapi tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan pendekatan yang menyeluruh dengan dasar riset limnologi, hidrologi, dan perubahan iklim.
Konsep ini disampaikan oleh peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air serta Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dalam acara Media Lounge Discussion (MELODI) yang bertema “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset”, yang dilaksanakan pada hari Rabu (4/2).
Banjir Jakarta: Isu yang Berkaitan dengan Banyak Faktor
Menurut Budi Heru Santoso, peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, fenomena banjir di Jakarta tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab, seperti intensitas curah hujan yang tinggi.
Ia menekankan bahwa banjir adalah akibat dari interaksi yang rumit antara perubahan iklim, keadaan hidrologi, penggunaan lahan, serta pengelolaan sumber daya air yang belum dilaksanakan dengan baik. "Budi menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan terdapat minimal tiga pemicu utama yang berhubungan satu sama lain. "
Pertama, Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence) dengan laju yang bervariasi antara 1 hingga 15 sentimeter setiap tahun.
Kedua, hujan yang sangat deras sering kali melebihi kemampuan sistem saluran air.
Ketiga, keadaan fisik saluran pembuangan dan sungai yang tidak beroperasi secara optimal disebabkan oleh pengendapan dan penumpukan sampah.
Ketiga faktor ini meningkatkan beban pada sistem hidrologi Jakarta.
Banyak sungai dan saluran di ibu kota mengalami penyusutan ukuran akibat endapan yang dihasilkan oleh erosi dari daerah hulu.
Sebagai hasilnya, kemampuan aliran berkurang secara signifikan, sehingga aliran air yang tergolong kecil pun berpotensi melimpah ke area pemukiman.
Strategi Sementara dan Jangka Panjang untuk Menurunkan Ancaman Banjir
Budi menegaskan bahwa pengelolaan banjir di Jakarta perlu dilakukan dengan menggunakan strategi yang komprehensif, mencakup perencanaan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Sebagai langkah yang cepat, ia menyebutkan beberapa prioritas utama yang harus segera dilaksanakan.
Pertama, penerapan sistem polder di daerah yang memiliki risiko banjir yang tinggi. Sistem ini berperan dalam mengatur ketinggian air dengan menggunakan pompa dan tanggul.
Kedua, pengoptimalan sistem peringatan dini yang terintegrasi, yang menggunakan analisis data terkini, termasuk algoritma kecerdasan buatan.
Ketiga, pembangunan infrastruktur untuk pengendalian banjir di daerah hulu, agar jumlah air yang masuk ke Jakarta dapat dikurangi sejak awal.
Sebaliknya, BRIN juga melakukan pengembangan berbagai penelitian teknologi guna mendukung kebijakan yang berjangka panjang. Salah satu contohnya adalah penggunaan Synthetic Aperture Radar (SAR) dalam bentuk pemodelan dua dimensi dan tiga dimensi yang dipadukan dengan analisis multi-track InSAR.
Teknologi ini memungkinkan pengawasan penurunan tanah dengan tepat dan sekaligus memetakan area yang berisiko banjir. Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan juga digunakan untuk meramalkan peningkatan tinggi air di Bendungan Katulampa dengan memanfaatkan data dari satelit.
Model ini dapat memberikan waktu peringatan dini yang lebih lama dan tepat bagi masyarakat Jakarta, sehingga proses evakuasi dapat dilaksanakan dengan lebih baik.
"Meskipun solusi ini sulit untuk diimplementasikan, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. " "Kunci utama adalah adanya komitmen politik yang melintasi berbagai wilayah, koordinasi yang baik antara lembaga-lembaga, serta partisipasi aktif dari masyarakat," ungkap Budi
Perubahan Iklim dan Intensitas Curah Hujan yang Tinggi
Dari sudut pandang iklim, cN, Eddy Hermawan, menjelaskan bahwa bertambahnya frekuensi peristiwa ekstrem adalah salah satu tanda nyata adanya perubahan iklim.
Ia memberikan contoh mengenai peristiwa hujan yang sangat ekstrem di Jakarta antara akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020, ketika jumlah curah hujan harian di Stasiun Halim Perdana Kusuma mencapai 377 mm—sebuah angka yang sangat tidak biasa. Eddy menyatakan, "Tidak mudah untuk memprediksi hujan yang ekstrem. "
Selain kurangnya pemahaman mengenai dinamika gelombang atmosfer, tantangan signifikan juga muncul akibat terbatasnya data dengan resolusi tinggi.
Secara ilmiah, ramalan cuaca memerlukan data yang bersifat konsisten atau tidak berubah. Sementara itu, informasi mengenai curah hujan biasanya tidak bersifat tetap.
Oleh karena itu, data harus diproses agar memenuhi kriteria untuk analisis. Sebelumnya, teknik tradisional seperti ARIMA digunakan, tetapi sekarang BRIN mulai mengembangkan metode yang didasarkan pada Machine Learning, Deep Learning, AI, dan Big Data.
Salah satu cara yang telah diuji adalah Hybrid ARIMA-LSTM, yang dapat memberikan akurasi yang lebih tinggi serta masa prediksi yang lebih lama dalam menganalisis anomali curah hujan.
Sistem Peringatan Dini yang Lebih Akurat dan Spesifik pada Setiap Lokasi
Untuk daerah Jakarta dan sekitarnya, Eddy menekankan signifikansi penggabungan berbagai sumber data, mulai dari satelit, data re-analisis, hingga data in-situ dari BMKG.
Seluruh data tersebut harus diorganisasikan dalam Sistem Peringatan Dini yang tepat waktu, terfokus, memiliki akurasi tinggi, dan dapat diimplementasikan pada area yang relatif kecil atau terlokalisasi.
Ia juga menekankan peranan krusial data radar cuaca BMKG, karena hujan ekstrem umumnya dipicu oleh awan konvektif besar seperti awan Cumulonimbus (Cb) atau Sistem Konvektif Super Sel (SCCs) yang dapat mencapai ketinggian 15–16 kilometer di atas permukaan laut.
"Di sini sangat jelas bahwa kita memerlukan pendekatan yang melibatkan berbagai parameter, lapisan, dan teknik untuk mencapai hasil prediksi yang benar-benar akurat," ujarnya.
Musim Hujan 2026 dan Dedikasi Penelitian BRIN
Mengenai musim hujan tahun 2026, Eddy memperkirakan bahwa periode hujan tersebut akan selesai pada akhir Februari atau awal Maret 2026. Estimasi ini disusun berdasarkan situasi Monsun Asia dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang sedang beralih menuju fase netral.
Di masa mendatang, BRIN menegaskan kesungguhannya untuk terus meningkatkan sistem peringatan dini yang komprehensif, terintegrasi, dan berdasarkan analisis yang mendalam.
Tujuannya sangat jelas: memberikan efisiensi waktu yang memadai bagi masyarakat dan pemerintah sehingga dampak hujan ekstrem dan banjir dapat dikurangi seoptimal mungkin.
"Diskusi ilmiah antar disiplin seperti ini sangat penting bagi kita. " Dengan kerjasama para ahli, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, kita dapat menciptakan solusi yang lebih kokoh dan berkelanjutan untuk menghadapi masalah banjir di Jakarta," tegas Eddy.
Nara Sumber Budi Heru Santoso ( peneliti dari Pusat Riset
Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN )
Eddy Hermawan ( Peneliti di Pusat Riset Iklim
dan Atmosfer BRIN )
Penulis Berita Raden Dede Sudrajat
Referensi Kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar