Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Kisah Yoyo yang Tinggal di Gang yang Sering Terendam Banjir di Surabaya, Sering Kali Menjadi Sungai Mendadak.

 

kondisi rumah Yoyo sesuai hujan deras turun mengguyur kota Surabaya

SURABAYA, Blogger. com - Hujan baru saja berlangsung selama sekitar tiga puluh menit ketika air mulai memasuki gang sempit di Jalan Bulak Banteng Baru, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Permukaan jalan yang awalnya hanya lembab, secara perlahan bertransformasi menjadi aliran yang mencapai tinggi mata kaki.

Di beranda sebuah rumah tua, Cahyo Prayogo (37) berdiri mengamati air yang secara perlahan mulai meninggi. “Tidak lama, dalam waktu setengah jam, ketinggian air sudah meningkat sekitar 30 centimeter,” ujarnya, mengingat pola banjir yang saat ini begitu dia kenali.

Rumah tersebut dibangun oleh orangtuanya pada dekade 1980-an, tidak lama setelah keluarga mereka berpindah dari Jombang ke Surabaya. Pria yang sering dipanggil "Yoyo" tersebut dilahirkan dan dibesarkan di tempat itu.

Ia pernah merantau untuk menempuh pendidikan dan bekerja, tinggal di Wonokromo, namun rumah di gang tersebut tetap menjadi tempat pulang. Terlebih lagi, dalam dua tahun terakhir, setelah kedua orangtuanya meninggal, ia lebih sering kembali dan tinggal secara bergantian bersama kakak dan adiknya. "Rumah itu adalah rumah pertama yang ada di sana. " Dahulu merupakan yang tertinggi. "Saat ini posisinya sangat rendah," ujarnya sambil memberikan senyuman kecil.

Sungai Dadakan

Yoyo menerangkan bahwa di kawasan tersebut, jika hujan berlangsung kurang dari satu jam, genangan air biasanya akan surut dalam waktu dua jam. Namun, jika hujan berlangsung lebih lama, maka air dapat bertahan hingga hari berikutnya. Selama lima tahun terakhir, terutama dalam tiga tahun terakhir, banjir hampir selalu terjadi setiap kali musim hujan tiba.

Yoyo juga menyatakan bahwa ia masih mengingat banjir terbesar yang pernah ia alami pada tahun 2001. Pada waktu itu, ia menyatakan bahwa Surabaya tampak tenggelam. "Kayu gelondongan dan sampah-sampah mengalir di depan rumah serta di gang, tampak seperti aliran sungai. " “Tinggi hampir mencapai lutut, sekitar 40 sentimeter,” ujarnya sambil menatap langit-langit, mengenang.

Saat mendung meliputi langit Kenjeran, kewaspadaan muncul lebih cepat daripada air. Yoyo tidak lagi memandang banjir sebagai "kesempatan untuk bermain" seperti ketika ia masih di sekolah; saat ini, ia lebih memilih untuk bersiaga. 

Saat ini, saya lebih siap siaga. Apabila sore hari telah mendung, saya tetap waspada. “Jika tidak ada orang di rumah, saya akan segera pulang,” ujarnya.

Salah satu kesepakatan yang telah dicapai oleh warga Bulak Banteng Baru adalah menutup akses gang pada saat banjir terjadi. Mereka menyadari bahwa sepeda motor atau sepeda yang melintas malah menyebabkan air masuk lebih banyak ke dalam rumah-rumah.

“Tutup bagian depan gang serta bagian belakang. ” Agar tidak ada yang melewati sementara waktu. Sisanya adalah menguras. "Saya menyiapkan pompa, yaitu pompa akuarium, untuk mengeluarkan air," kata Yoyo.

Bangunan Utama yang Tidak untuk Dijual

Beberapa bagian teras dan ruang makan rumah Yoyo telah ditinggikan sejak tahun 2022, dengan ketinggian sekitar 15 sentimeter di atas jalan. Namun, ruang tamu dan ruang keluarga masih berada pada ketinggian sebelumnya. 

Saat banjir terjadi, bagian tersebut adalah yang paling lama untuk kembali normal. Modifikasi yang dilakukan hanya sebatas penambahan ketinggian. "Hanya dengan meninggikan terasnya saja," ujarnya.

Meskipun demikian, air masih dapat mengalir melalui saluran. Area tersebut saat ini ditempati oleh lebih dari 300 keluarga Kepala Keluarga. Hampir tidak ada lagi daerah resapan yang tersisa. Air tidak memiliki tempat lain selain terakumulasi di jalan-jalan sempit.

Pertanyaan tentang untuk pindah sebenarnya pernah muncul dalam pikirannya. "Jika saya, mungkin ada kemungkinan untuk berpindah. " “Akan tetapi, sepertinya rumah itu tidak mungkin untuk dijual,” ujarnya dengan tegas.

Terdapat elemen sejarah yang tidak dapat dinilai dengan angka. Bangunan tersebut merupakan lambang usaha orangtuanya, sebuah struktur kuno yang telah ada sejak desa itu belum sepadat saat ini. 

Selain itu, terdapat kenyataan ekonomi. “Mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan untuk membeli. ” "Dapat membeli juga di luar Surabaya tentunya," ujarnya.

Yoyo juga menceritakan bahwa saudara-saudaranya yang kecil bersekolah di dekat rumah tersebut. Hubungan erat dengan tetangga membuat mereka tetap berada dalam lingkungan risiko yang sama.

Trauma yang Tumbuh Secara Perlahan

Banjir tidak hanya berkaitan dengan permukaan yang lembab. Beberapa bulan yang lalu, kamar mandi rumah tersebut roboh setelah hujan lebat berlangsung hampir dua jam, "Hujan terus-menerus, menyebabkan banjir dan tidak lama kemudian ambruk. " 

"Pada saat ini tidak melakukan renovasi, sejak bulan November yang lalu tidak melakukan pembayaran cicilan," ujar Yoyo. Renovasi dilaksanakan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan keuangan yang tersedia. Waktu kerja juga sering terganggu saat musim hujan, dia lebih banyak berada di rumah. Tugas yang belum selesai, pendapatan terpengaruh.

"Seharusnya terdapat banyak tugas, namun pada kenyataannya tidak diselesaikan," katanya.

Saudaranya yang pernah menjual perabotan dan pakaian secara online juga telah mengentikan usahanya. Barang tidak lagi memiliki tempat yang aman untuk disimpan.

Sebaliknya, anak-anak di rumah tersebut berkembang dengan tingkat kewaspadaan yang tidak biasa. Setiap kali hujan turun, mereka segera bersiap-siap. Ponakanku segera merasa cemas ketika melihat hujan. Tidur tidak nyaman. Jaga pasokan air hingga malam hari. “Esok harinya merasa sangat lelah,” ungkap Yoyo.

Trauma akibat bencana tidak muncul dalam bentuk tangisan, tetapi terlihat dalam kebiasaan waspada bagi individu yang dibesarkan di daerah yang setiap hari menghadapi risiko banjir yang cukup tinggi.

Harapan terhadap Pengaturan Ruang

Yoyo juga memperhatikan bahwa masalah banjir di desanya tidak dapat diselesaikan hanya dengan proyek sementara. Ia mengomentari proyek box culvert dan pengerukan yang dilakukan oleh pemkot Surabaya, yang dinilainya belum mengatasi sumber masalah dengan baik. 

Perlu memahami bagaimana tata ruangnya. “Berapa proporsi yang dialokasikan untuk resapan air, dan berapa proporsi yang diperuntukkan bagi kawasan pemukiman,” katanya.

Ia juga merasa cemas tentang rencana proyek Surabaya Water Land (SWL) yang berada di tepi pantai Kenjeran. Tinggal di daerah pantai yang menghadapi peningkatan banjir membuatnya merasa khawatir terhadap proyek reklamasi tersebut. 

“Menurut pendapat saya, tidak akan ada kemajuan atau peningkatan kesejahteraan bersama dalam kondisi lingkungan yang tercemar,” kata beliau.

Hujan kemungkinan akan terus berlangsung, dan air dapat kembali menggenangi gang tersebut, dengan kedalaman mencapai 30 sentimeter atau lebih dalam setiap kejadian banjir. 

Namun bagi Yoyo, rumah tersebut tetap merupakan rumah utama, tempat yang menyimpan sejarah keluarga yang terus ia pertahankan meskipun harus menghadapi risiko banjir setiap harinya.

Walaupun demikian, ia masih berharap bahwa suatu hari air tidak lagi menjadi penghuni yang terlalu sering memasuki rumahnya ketika musim hujan datang.




Nara Sumber.         Cahyo Prayogo ( Warga Sekitar ).


Penulis Berita.        Raden Dede Sudrajat 


Referensi.                 Surabaya.kompas.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon