Kode iklan di atas

Masalah yang Kompleks di Pasar Kramat Jati: Tumpukan Sampah yang Tinggi dan Dinding TPS yang Belum Diperbaiki

Gambar
  Kondisi sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (31/3/2026) JAKARTA, Blogger.com --- Dinding di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga disebabkan oleh tekanan dari tumpukan sampah yang menggunung. Dinding tersebut tumbang sejak Januari 2026 akibat sampah yang menumpuk dan memberikan tekanan pada struktur dinding, namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan. Material beton serta tiang dinding tampak runtuh hingga masuk ke saluran air di bagian belakang Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Selain itu, banyak tumpukan sampah sayuran dan buah dari TPS juga terlihat terbawa ke saluran air. Di belakang area TPS terdapat lahan kosong yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain dan juga ada jalan setapak yang sering digunakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap Keamanan Warga Seorang warga bernama Susi (40) menyampaikan bahwa jalan setapak yang dekat dengan TPS yang dindingnya roboh sering dilalui oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia merasa khawatir akan keselam...

Produksi sampah di Jakarta Selatan mencapai 1. 120 ton per hari selama libur Lebaran

 

Petugas mengolah sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu berkonsep Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang) atau TPS3R Sinergi Bersih Lenteng Agung, Jakarta Selatan,

Jakarta, Blogger.com --- Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan (Jaksel) melaporkan bahwa produksi sampah di area tersebut mencapai 1. 120 ton per hari selama masa libur Lebaran tahun 2026.

"Estimasi jumlah sampah yang dibuang setiap hari selama periode Lebaran adalah 1. 120 ton," ungkap Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Dedy Setiono, ketika dihubungi di Jakarta, pada Rabu.

Dia menjelaskan bahwa angka tersebut berasal dari data estimasi berat berdasarkan daftar pembuangan selama periode liburan Lebaran yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 24 Maret 2026.

Dalam penanganan sampah setiap hari, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan mengerahkan petugas dan armada yang tersebar di sepuluh kecamatan.

"Kami menugaskan 1. 107 petugas kebersihan dan 190 truk pengangkut sampah untuk diangkut ke TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantargebang setiap harinya," jelas Dedy.

Setelah pengumpulan sampah, kata dia, pihaknya memilah antara sampah yang dapat dikirim ke bank sampah atau dimanfaatkan sebagai kompos.

Untuk jenis sampah organik, dapat digunakan dalam proses pembuatan kompos dan magot. Sementara itu, sisa-sisa yang tidak terpakai dikumpulkan di tempat penampungan sementara (TPS) dan selanjutnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang.

Dia juga mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan di sekitar mereka.

Selain itu, masyarakat diharapkan untuk konsisten dalam mengurangi produksi sampah dan memilah sampah yang dihasilkan, sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah di Lingkungan Rukun Warga.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada tahun 2025, volume sampah di Jakarta rata-rata mencapai lebih dari 7. 900 ton per hari.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk mengelola sampah tersebut melalui pengurangan di sumber dan pengolahan di TPST Bantargebang.




Nara Sumber             Dedy Setiono ( Kepala Suku Dinas Lingkungan

                                       Hidup Jakarta Selatan, ) 

Penulis Berita           Raden Dede Sudrajat

Referensi                    Antaranews.com/berita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga bangkai raksasa yang dikenal sebagai Amorphopallus titanum sedang mekar di Kebun Raya Bogor.

Bangkit dari Sela Sawit: Cerita Ismu Widodo Mengembangkan Komoditas Kopi Liberika di Sepaku

Hujan dan Angin di Cibinong Mengakibatkan Tiga Rumah Warga Rusak Karena Tertimpa Pohon