 |
| Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Wilayah Sumatera Muhammad Tito Karnavian. |
Jakarta, Blogger.com ---- Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus meningkatkan jumlah fasilitas sumur bor serta fasilitas sanitasi untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Berdasarkan informasi dari Satgas PRR, per tanggal 26 Februari, dari total 72 MCK yang direncanakan dibangun di Aceh, sebanyak 54 unit telah berhasil diselesaikan. Dari total 139 MCK yang direncanakan untuk dibangun di Sumut, sebanyak 128 MCK sudah selesai dibangun. Selanjutnya, dari total 46 MCK yang direncanakan dibangun di Sumatera Barat, sebanyak 21 di antaranya telah berhasil diselesaikan.
Sementara itu, untuk konstruksi sumur bor. Dari total 578 sumur bor yang direncanakan untuk dibangun di Aceh, sebanyak 369 sudah berhasil dibangun. Dari total 152 sumur bor yang direncanakan untuk dibangun di Sumatera Utara, sebanyak 84 sumur di antaranya sudah selesai dibangun. Sementara itu, dari total 107 sumur bor yang direncanakan dibangun di Sumatera Barat, sebanyak 21 sumur di antaranya telah selesai dibangun.
Sebanyak 208 MCK telah dibangun, yang merupakan 80 persen dari total 257 MCK yang direncanakan untuk dibangun di wilayah bencana di Sumatera. Jumlah total sumur bor yang telah dibangun adalah 474, yang merupakan 56 persen dari target 836 sumur bor yang direncanakan untuk dibangun di wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan bahwa pembangunan sumur bor dan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) darurat ditingkatkan kecepatan pelaksanaannya untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas bencana di Sumatera. Tindakan ini diambil untuk menghindari terjadinya krisis kesehatan dan untuk mempercepat pemulihan kehidupan para penyintas bencana di Sumatera.
Tito memberikan penghargaan terhadap kerja sama antar sektor yang telah bersama-sama membangun sumur bor dan fasilitas sanitasi MCK di lokasi bencana di Sumatera. Oleh karena itu, kebutuhan akan air bersih dan fasilitas sanitasi MCK sangat penting, karena infrastruktur air bersih dan sanitasi MCK telah mengalami kerusakan akibat bencana longsor dan banjir yang terjadi di Sumatera pada akhir tahun lalu.
Saya mengucapkan terima kasih kepada PLN, Danantara, dan Kementerian ESDM atas pembentukan sumber bor dan MCK, di mana 80% sudah tersedia untuk MCK. Namun, untuk sumur bor, masih diperlukan banyak upaya karena hanya baru mencapai 44%, dengan 56% sisanya masih dalam proses, yakni 474 unit. Hal ini disebabkan oleh masalah pasokan air minum dan jaringan yang terputus," ungkap Tito dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri untuk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta.
Rapat yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno ini juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago; Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono; Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar; Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy; serta Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Sarah Sadiqa.
Di samping itu, hadir juga secara daring Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto; Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid; Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan; Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto; serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria.
Penulis Berita. Raden Dede Sudrajat
Referensi. Antaranews.com/berita
Komentar
Posting Komentar