Kode iklan di atas
Titik-titik pada Tanggul Bolong di Sungai Bekasi Teridentifikasi, Dikatakan Memicu Banjir.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Kondisi salah satu titik tanggul Kali Bekasi yang belum tersambung saat ditinjau dalam kegiatan susur sungai oleh KP2C bersama BBWS Ciliwung Cisadane, DPRD Kota Bekasi, dan warga, Kamis (5/3/2026). |
BEKASI, Blogger. com – Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) telah menemukan beberapa lokasi pada tanggul yang tidak utuh dan belum terhubung di sepanjang Kali Bekasi. Situasi ini dinilai sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir di Kota Bekasi.
Informasi tersebut disampaikan selama kegiatan peninjauan sungai yang diadakan bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWS Ciliwung Cisadane), Komisi II DPRD Kota Bekasi, serta masyarakat, pada hari Kamis, 5 Maret 2026.
“Kami berupaya memahami apa yang sebenarnya menjadi penyebab utama terjadinya banjir di kawasan Kota Bekasi. ” “Dan ternyata masih terdapat beberapa tanggul yang belum terhubung,” kata Puarman ketika ditemui di lokasi, pada hari Kamis.
Pengamatan Kompas. com di area tersebut menunjukkan bahwa aktivitas susur sungai diawali dari Pos Pantau KP2C yang berada di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Jatiasih, dan dilanjutkan ke Kemang IFI Graha, Pondok Mitra Lestari, Perumahan Kemang Pratama, hingga Delta Pekayon.
Ia menjelaskan bahwa di daerah RT 05 RW 09 Perumahan Pondok Gede Permai, ditemukan tanggul yang bolong (rusak) dengan panjang 100 meter. Di RT 06 dan RT 09 RW 07 dalam perumahan yang sama, terdapat tanggul yang belum terhubung dengan panjang 219 meter, serta terdapat lubang di bawah tanggul yang lama di RT 01 dan RT 02 RW 07 AL.
Di Kampung Lebak RW 05 Jatirasa, KP2C mengidentifikasi adanya pintu air yang mengalami kebocoran dan masih memakai model katup, serta terdapat pintu air growong yang terletak di bawah Gedung Girsang. Selain itu, di Gerbang Pondok Mitra Lestari RW 05, terdapat tanggul yang panjangnya 497 meter dan hingga kini belum terhubung.
Menurut Puarman, meskipun proyek normalisasi Kali Bekasi telah selesai, fungsi pengendalian banjir belum optimal karena adanya tanggul yang belum terhubung.
“Namun, seperti kapal pesiar, sebaik apapun itu, jika terdapat beberapa lubang, maka tidak dapat beroperasi dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Sungai Bekasi adalah tempat bertemu antara Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Saat aliran air dari daerah hulu di Kabupaten Bogor bertambah, jumlah air di Kali Bekasi juga meningkat dan berpotensi meluap ke lingkungan permukiman di sekitarnya.
Saat debit Kali Bekasi meningkat, perumahan di sisi-sisinya berpotensi mengalami banjir. "Selain itu, terdapat beberapa lokasi yang tanggulnya masih belum terhubung," kata Puarman.
Ia menekankan bahwa masalah banjir di Bekasi tidak dapat diselesaikan secara terpisah, karena sumber air berasal dari daerah hulu. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara komprehensif dari awal hingga akhir. "Bekasi tidak dapat berfungsi secara mandiri. " Sungai tersebut bersumber dari hulu yang terletak di Kabupaten Bogor.
Oleh karena itu, masalah ini perlu diselesaikan di tingkat negara secara menyeluruh. "Hulu telah diselesaikan, bagian tengah sedang diselesaikan, dan hilir juga telah diselesaikan," ujarnya.
Selain melakukan normalisasi dan membangun tanggul, Puarman berpendapat bahwa pembangunan kolam retensi di delapan lokasi yang telah disusun oleh pemerintah dapat menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi banjir.
Ia juga menekankan bahwa dalam Rencana Aksi pengendalian banjir Kali Bekasi, biaya pembangunan akan ditanggung oleh Kementerian Pekerjaan Umum, sedangkan pembebasan lahan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. "Jika berada di Kota Bekasi, maka tanggung jawabnya adalah Wali Kota Bekasi," ujarnya.
Puarman menginginkan agar masalah pembebasan lahan yang menghalangi penyambungan tanggul dapat diselesaikan dengan segera, mengingat risiko banjir di Kota Bekasi dianggap semakin meningkat setiap tahunnya.
Sebelumnya dilaporkan, proyek pembangunan tanggul di sepanjang Kali Bekasi yang melewati Perumahan Pondok Mitra Lestari (PML) telah dikeluhkan oleh masyarakat karena belum selesai setelah dua tahun terhenti.
Dari total sekitar 1. 000 meter proyek normalisasi sungai, masih ada sekitar 400 meter tanggul yang belum terhubung. Sisa tanggul yang belum diselesaikan itu disebut sebagai titik utama untuk masuknya air ke area PML ketika aliran Kali Bekasi meningkat.
"Oleh karena itu, dari total 1000 meter tanggul proyek normalisasi sungai pada masa Jokowi yang dimulai pada tahun 2022 dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2024, terdapat sekitar 300 meter yang masih belum dikerjakan," kata Andi saat dijumpai oleh Kompas. com, Rabu (18/2/2026).
Menurut Andi, segmen tanggul yang belum terhubung itu menjadi jalur air meluap ke tempat tinggal penduduk. Tanggul yang belum dibangun ini merupakan penyebab masuknya air ke dalam area PML. "Jadi, aliran airnya bergerak dari depan menuju belakang," ujarnya.
Ia mengharapkan agar Wali Kota Bekasi dan BBWSCC memberikan perhatian serius untuk menyelesaikan sisa proyek tanggul tersebut, sehingga warga tidak lagi mengalami banjir. "Saya berharap Wali Kota dan BBWSCC bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan sisa tanggul ini agar kami tidak lagi mengalami trauma," ujarnya.
Nara sumber. Puarma ( proyek normalisasi Kali Bekasi ).
Andi
Penulis Berita. Raden Dede Sudrajat
Referensi. Megapolitan.kompas.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar