Perbarui Jumlah Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur: 15 Tewas, 91 Terluka
![]() |
| Urban farming Rawa Malang, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, yang dikelola Gen Z. Selasa (28/4/2026). |
JAKARTA, Blogger.com ---- Di atas lahan yang dahulu sering menjadi tempat bentrokan, para generasi Z di Rawa Malang, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, berhasil meraih omzet jutaan rupiah.
Dengan memanfaatkan lahan terlantar yang sebelumnya identik dengan konflik dan tumpukan sampah, mereka berhasil mengubah area tersebut menjadi kebun produktif yang menghasilkan sayuran segar.
Langkah ini tidak hanya mengurangi potensi terjadinya konflik, tetapi juga memberikan keuntungan dengan omzet yang mencapai jutaan rupiah setiap bulannya.
Inisiatif ini membuktikan bahwa tempat yang dulunya penuh dengan kekerasan dapat bertransformasi menjadi sumber harapan serta mata pencaharian bagi masyarakat sekitar.
"Satu bulan bisa mencapai Rp 1,5 juta. Jadi, tidak bisa dihitung per hari," ujar Ketua Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri RW 10 Semper Timur, Dwi Angga Mukti (26), saat diwawancarai Kompas. com di lokasi pada Selasa (27/4/2026).
Bahkan, Kelompok Urban Farming Bangun Karya Mandiri yang dipimpin Angga pernah memperoleh omzet sekitar Rp 2 juta dalam satu kali panen.
Berawal dari pembangunan waduk
Angga menceritakan bahwa Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri yang terletak di tengah gang dan dekat di bawah kolong Tol Cibitung-Cilincing, didirikan pada tahun 2024.
Ia bersama ayahnya, Selamet, dan Ketua RT setempat, Ahmad Saddam (35), merasa gelisah melihat lahan seluas 1,5 hektare yang terbengkalai di sekitar kolong tol milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, yang merupakan sisa dari pembangunan Waduk Rawa Malang.
Lahan tersebut perlahan-lahan menjadi tempat pembuangan sampah ilegal dan sering digunakan untuk lokasi tawuran oleh para remaja.
Mereka kemudian memutuskan untuk menanami lahan tersebut dengan berbagai jenis tanaman agar warga tidak lagi membuang sampah sembarangan.
“Dulu lahan ini memang jadi tempat pembuangan sampah. Jika dibiarkan, jumlah sampahnya bisa semakin banyak jika tidak ditanami seperti sekarang,” ujarnya.
Tidak disangka, aktivitas menanam yang awalnya sederhana tersebut menjadi semakin rutin dan melibatkan para pemuda di sekitar.
Angga menyatakan bahwa setidaknya terdapat 10 pemuda yang aktif merawat lahan urban farming ini.
Setiap pulang sekolah, beberapa dari mereka secara teratur datang untuk membantu menyiram tanaman maupun menanam benih baru. Pada hari libur, jumlah pemuda yang merawat kebun biasanya meningkat.
Hanya dapat ditanami sayur
Namun, bertani di wilayah Cilincing yang dekat dengan pesisir bukanlah hal yang mudah. Salah satu tantangannya adalah kondisi tanah yang mengandung garam sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Hingga saat ini, tanaman yang berhasil tumbuh didominasi oleh sayuran, seperti kangkung, bayam, kemangi, sawi, cabai, dan lain-lain.
Mereka juga pernah berusaha menanam buah-buahan, tetapi gagal karena kadar garam di tanah terlalu tinggi.
Meski demikian, kebun yang dikelola generasi Z ini sudah mampu menghasilkan panen sayuran hijau setiap hari.
Menurut Angga, dalam sehari mereka dapat memanen setidaknya 15 kilogram sayuran campuran. Umumnya, sayuran yang paling sering dipanen adalah sawi dan kemangi.
Hasil panen tersebut dijual kepada pedagang seblak, bakso, dan pasar tradisional. Hingga saat ini, telah terdapat lima pedagang yang menjadi pelanggan tetap sayuran dari kebun milik generasi Z ini.
Pendapatan dari penjualan sayur setiap harinya dikumpulkan dan akan dibagikan secara merata ke setiap anggota setelah satu bulan. Sisanya akan masuk ke kas untuk modal membeli pupuk atau bibit.
Angga menyadari bahwa penghasilan kebun ini belum terlalu besar. Namun, menurutnya, keberadaan urban farming ini setidaknya memberikan aktivitas positif bagi pemuda agar terhindar dari tawuran.
Selain itu, mereka juga mendapatkan tambahan uang saku. Begitu pula dengan Angga yang memperoleh penghasilan tambahan setiap bulan, meski jumlahnya tidak terlalu signifikan.
Beruntung, ia juga memiliki usaha warung sehingga kebutuhan sehari-harinya tetap terpenuhi meskipun fokus mengurus kebun.
Berhenti tawuran
Salah satu anggota generasi Z yang terlibat dalam mengelola urban farming Bangun Karya Mandiri, Fajar (15), mengungkapkan bahwa keberadaan kebun ini telah menjadikannya berhenti tawuran.
“Dulu saya sering tawuran, sekarang tidak lagi,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa.
Setiap pulang sekolah, ia langsung menuju kebun untuk membantu Angga menyiram, memberi pupuk, atau menanam sayur.
Bahkan, ia juga terdorong untuk bercocok tanam di halaman rumahnya sendiri. “Kadang cabai, terong, dan tomat. Itu saya terapkan di rumah,” tambahnya.
Fajar berharap, kedepannya urban farming ini dapat terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari pemerintah agar menjadi tempat kegiatan positif bagi generasi Z.
Berbagai dukungan diberikan
Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (Sudin KPKP) Jakarta Utara, Novy Christine Palit, menyatakan bahwa telah memberikan berbagai dukungan untuk Kelompok Bangun Karya Mandiri.
"Peran Sudin KPKP sebagai instansi pembina tentunya melakukan pendampingan terhadap urban farming yang dilakukan oleh masyarakat di Rawa Malang,” kata Novy saat dihubungi Kompas. com, Selasa. Dukungan tersebut meliputi pembentukan Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri pada tahun 2025.
Selain itu, Sudin KPKP juga memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk urban farming, seperti hidroponik, benih, pupuk, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Selanjutnya, Sudin KPKP juga melakukan pengambilan sampel hasil panen untuk memastikan keamanan sayuran yang akan dikonsumsi.
Di sisi lain, Dinas KPKP memiliki program utama yang mendukung keterlibatan pemuda dalam urban farming.
Salah satunya melalui Festival Urban Farming yang mencakup pameran, edukasi, lomba, inovasi dari mahasiswa, serta bazar UMKM.
Selain itu, Dinas KPKP juga mengembangkan teknologi pertanian di lahan terbatas, seperti pertanian atap dan sistem otomatisasi pertanian.
Berperan penting membentuk ketahanan pangan
Novy menegaskan bahwa Sudin KPKP sangat mendukung kegiatan generasi Z di Cilincing yang mengelola urban farming.
"Ini menjadi bukti bahwa urban farming telah menjadi tren gaya hidup berkelanjutan yang dijalani oleh segala lapisan masyarakat, termasuk generasi Z yang berinisiatif mandiri dalam mendapatkan bahan makanan sehat dan juga melihat peluang bisnis,” ujar Novy.
Menurutnya, urban farming juga menjadi salah satu program unggulan dalam upaya ketahanan pangan di Jakarta.
Pertanian di lahan terbatas akan terus didorong melalui pemanfaatan teknologi, seperti hidroponik, penanaman secara serentak empat kali setahun, dan panen serentak dua kali setahun.
Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi, membangun kemandirian pangan keluarga, memberdayakan masyarakat, memanfaatkan lahan kosong, serta mendidik masyarakat agar memiliki pola pikir mandiri mengenai pangan.
Penyebab generasi Z tertarik dengan urban farming
Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menjelaskan bahwa ketertarikan generasi Z terhadap urban farming disebabkan oleh sektor ini menggabungkan isu lingkungan, gaya hidup sehat, komunitas, dan peluang ekonomi kecil.
“Bagi anak muda di kota, urban farming terasa lebih dekat dibandingkan dengan pertanian konvensional karena lahannya lebih kecil, teknologinya bisa sederhana atau modern, dan dapat dihubungkan dengan konten digital, kewirausahaan sosial, ketahanan pangan keluarga, serta aksi untuk lingkungan,” ungkapnya saat dihubungi Kompas. com, Selasa.
Faktor lain yaitu kebutuhan akan ruang positif bagi pemuda. Di Rawa Malang, urban farming dinilai sebagai solusi terhadap berbagai masalah sosial.
Mahawan menjelaskan bahwa lahan yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah dan tawuran telah diubah menjadi ruang yang produktif.
Riset tentang Pertanian Perkotaan menunjukkan bahwa manfaatnya tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial, kesehatan, kesejahteraan, pengurangan risiko bencana, dan lingkungan kota.
Manfaat lingkungan
Di sisi lain, keberadaan urban farming di bawah tol memberikan dampak yang cukup signifikan, terutama dalam memperbaiki ruang kota.
Manfaat lingkungan dari urban farming mencakup pengurangan titik pembuangan sampah ilegal, peningkatan tutupan hijau, penurunan debu lokal akibat vegetasi, perbaikan estetika kawasan, pemanfaatan air hujan atau kompos organik jika dikelola dengan baik, serta pengurangan jejak transportasi pangan karena produksi dilakukan dekat dengan konsumen.
“Manfaat sosialnya bahkan lebih besar, mengurangi ruang kosong yang rentan konflik, menyediakan kegiatan positif bagi para pemuda, membangun solidaritas antarwarga, serta menjadi ruang belajar mengenai lingkungan,” jelas Mahawan.
Nara Sumber Dwi Angga Mukti
Ketua Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri Rw 10 Semper Timur
Ahmad Saddam
Ketua RT setempat
Fajar
Anggota mengelola urban farming Bangun Karya Mandiri
Novy Christine Palit,
Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan
Perikanan (Sudin KPKP) Jakarta Utara,
Penulis Berita Raden Dede Sudrajat
Referensi Megapolitan.kompas.com
Komentar
Posting Komentar